BERITA TERKINI
Kapal Perang India Berlatih Bersama Filipina di Laut China Selatan di Tengah Sengketa

Kapal Perang India Berlatih Bersama Filipina di Laut China Selatan di Tengah Sengketa

Armada kapal perang India memasuki wilayah Laut China Selatan (LCS) pada Minggu (3/8/2025), di tengah sengketa yang melibatkan sejumlah negara, termasuk China.

Menurut laporan Al Jazeera, kehadiran kapal-kapal India itu terkait latihan maritim bersama militer Filipina. Kapal yang terlibat antara lain kapal perusak berpeluru kendali INS Delhi, kapal tanker INS Shakti, dan korvet INS Kiltan. Dari pihak Filipina, dua fregat dikerahkan, yakni BRP Miguel Malvar dan BRP Jose Rizal.

Kepala Staf Filipina Romeo Brawner Jr. mengatakan pada Senin bahwa pelayaran gabungan tersebut berlangsung di dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina.

“Kami tidak mengalami insiden yang tidak diinginkan, tetapi masih ada yang membayangi kami—seperti yang telah kami perkirakan,” kata Brawner kepada wartawan, tanpa menyebut nama China.

Militer Filipina menambahkan bahwa dalam patroli gabungan sebelumnya dengan angkatan laut asing lainnya, kapal angkatan laut dan penjaga pantai China disebut melakukan pengawasan dari kejauhan.

Latihan ini berlangsung bertepatan dengan keberangkatan Presiden Filipina Ferdinand Marcos untuk lawatan lima hari ke India. Dalam kunjungan tersebut, Marcos menyatakan akan berupaya mempererat hubungan maritim serta mendorong kerja sama di berbagai sektor, termasuk pertahanan, farmasi, dan pertanian.

Brawner juga menyampaikan harapannya agar pasukan Filipina dapat lebih banyak terlibat dengan militer India dalam manuver gabungan pada masa mendatang, yang disebutnya sebagai bagian dari upaya menjaga perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.

“Latihan ini mengirimkan sinyal solidaritas yang kuat, kekuatan dalam kemitraan, dan energi kerja sama antara dua negara demokrasi yang dinamis di Indo-Pasifik,” ujarnya.

Laut China Selatan merupakan perairan yang disengketakan antara sejumlah negara Asia Tenggara dengan China. Beijing mengklaim sekitar 90% wilayah tersebut melalui skema peta yang dikenal sebagai “sembilan garis putus-putus”.

Menanggapi latihan itu, Kementerian Luar Negeri China menyatakan sengketa teritorial dan maritim harus diselesaikan oleh negara-negara yang terlibat langsung, serta menegaskan tidak semestinya ada campur tangan pihak ketiga.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Nasional China menyebut Filipina sebagai “pembuat onar” yang bersekutu dengan kekuatan asing untuk menimbulkan masalah di wilayah yang dianggap China sebagai perairan teritorialnya. Juru bicara Zhang Xiaogang mengatakan China tidak akan goyah dalam menjaga kedaulatan teritorial nasional serta hak dan kepentingan maritim, dan akan mengambil tindakan balasan yang tegas terhadap setiap provokasi oleh pihak Filipina.