Kapal induk terbaru Tiongkok, Fujian, dilaporkan berlayar melintasi Selat Taiwan menuju Laut China Selatan dalam rangkaian uji coba lautnya. Kedua wilayah perairan tersebut selama ini dikenal sensitif karena menjadi titik sengketa dan perhatian berbagai pihak di kawasan.
Angkatan Laut Tiongkok menyatakan pada Jumat, 12 September, bahwa pelayaran itu dilakukan untuk menjalankan misi penelitian dan pelatihan ilmiah. Fujian pertama kali diperkenalkan pada 2022, merupakan kapal induk ketiga Tiongkok, dan memulai uji coba laut pada tahun lalu. Hingga kini, kapal tersebut belum dinyatakan resmi beroperasi.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut Tiongkok menegaskan bahwa latihan uji coba dan pelatihan lintas regional Fujian merupakan pengaturan rutin dalam proses pembangunan kapal induk dan tidak ditujukan pada target tertentu.
Pelayaran Fujian berlangsung di tengah latihan militer yang digelar Marinir Amerika Serikat bersama mitra Jepang di Okinawa, pulau terdekat dari Taiwan. Latihan selama dua minggu itu melibatkan sistem rudal Typhon dan senjata antikapal canggih lainnya, serta dijadwalkan berlangsung hingga 25 September.
Kementerian Pertahanan Jepang menyampaikan pada Kamis malam bahwa Fujian telah memasuki Laut China Timur dan berlayar ke barat daya menuju Taiwan, dengan pengawalan dua kapal perusak rudal Tiongkok.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Taiwan menyatakan telah memantau perkembangan situasi melalui pengawasan intelijen gabungan dan mengambil langkah-langkah yang dinilai perlu. Seorang pejabat keamanan senior Taiwan mengatakan kepada Reuters bahwa Fujian kemungkinan menuju Laut China Selatan untuk mempersiapkan upacara peresmian.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Tiongkok tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Dalam sekitar lima tahun terakhir, Tiongkok meningkatkan kehadiran militernya di sekitar Taiwan, termasuk melalui latihan perang, sebagai bagian dari penegasan klaim kedaulatannya. Pemerintah Taiwan menolak klaim tersebut dan menyatakan bahwa hanya rakyat Taiwan yang berhak menentukan masa depan pulau itu.
Perbedaan pandangan juga terlihat terkait status Selat Taiwan. Tiongkok menyebut selat itu sebagai perairan teritorialnya, sedangkan Taiwan, Amerika Serikat, dan sejumlah sekutunya menilai Selat Taiwan merupakan jalur air internasional.
Laut China Selatan menjadi kawasan lain yang turut mencatat peningkatan aktivitas militer Tiongkok. Beijing mengklaim sebagian besar wilayah laut tersebut, namun klaim itu dipersengketakan oleh sejumlah negara, termasuk Filipina dan Vietnam.
Fujian disebut dirancang dan dibangun di dalam negeri, serta memiliki ukuran dan kemampuan yang lebih maju dibandingkan Shandong yang mulai ditugaskan pada akhir 2019 dan Liaoning yang dibeli Tiongkok dari Ukraina pada 1998. Kapal ini memiliki dek datar serta ketapel elektromagnetik untuk meluncurkan pesawat, dan diperkirakan dapat membawa pesawat dengan jangkauan lebih besar dibanding dua kapal induk Tiongkok lainnya, termasuk pesawat peringatan dini dan, pada tahap berikutnya, jet tempur siluman pertama Tiongkok yang mampu beroperasi dari kapal induk.
Peneliti Association of Strategic Foresight yang berbasis di Taipei, Chieh Chung, menilai bahwa setelah Fujian mulai beroperasi, Tiongkok akan dapat mempertahankan tiga kelompok penyerang kapal induk pada posisi taktis di Pasifik Barat. Ia juga menyebut kemampuan Fujian membawa pesawat peringatan dini sayap tetap—yang tidak dimiliki dua kapal induk lainnya—dapat memperluas zona pertahanan jarak jauhnya hingga lebih dari 600 kilometer.
Uji coba Fujian terus menjadi perhatian analis keamanan regional dan atase militer, termasuk untuk menilai seberapa efektif Angkatan Laut Tiongkok mengoordinasikan operasi kapal induk secara penuh bersama kapal pengawal dan kapal selam.

