Jakarta — Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki lebih dari dua bulan pada pekan ini. Perang tersebut mendorong harga minyak mentah melonjak hingga melampaui US$110 per barel, sehingga meningkatkan risiko stagflasi.
Pelaku pasar masih menunggu kejelasan perkembangan konflik, termasuk kemungkinan AS kembali melancarkan serangan, apakah produksi minyak tetap terganggu, serta seberapa banyak kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dinilai krusial karena kondisi ekonomi sangat bergantung pada dinamika yang terjadi.
Di tengah ketidakpastian geopolitik, perhatian investor pekan ini terbagi pada tiga hal: perkembangan perang, arah kebijakan moneter, dan rilis rangkaian data ekonomi utama dari AS serta kawasan Asia.
Ketegangan terkait perang Iran dan lonjakan harga minyak tetap menjadi isu utama yang membentuk ekspektasi inflasi sekaligus menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.