Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai dunia usaha perlu semakin adaptif menghadapi gejolak ekonomi global yang kian sering terjadi. Di tengah ketidakpastian tersebut, Kadin mendorong pelaku usaha untuk memperkuat fokus pada pasar domestik sebagai penopang utama.
Wakil Ketua Umum (WKU) Koordinator Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, James T. Riady, mengatakan kondisi global yang bergejolak kini telah menjadi “normal baru” sehingga perusahaan dituntut lebih cermat dalam merespons perubahan.
“Kita akan terus menghadapi gejolak yang makin sering. Ini sudah menjadi new normal. Jadi kita harus pintar merespons dan menyesuaikan diri dengan situasi global,” ujar James dalam keterangan yang dikutip Sabtu (11/4/2026).
Meski mengakui adanya ketidakpastian dalam jangka pendek, James menilai prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah hingga panjang tetap kuat. Ia mengaitkan hal itu dengan pergeseran pusat ekonomi global dari kawasan Atlantik ke Pasifik, yang mencakup negara-negara besar seperti Amerika Serikat, China, dan Indonesia.
Menurutnya, posisi geografis Indonesia juga menjadi keunggulan strategis dalam perdagangan internasional. Letak Indonesia yang berada di jalur pelayaran global dinilai membuka peluang besar bagi aktivitas ekonomi lintas negara.
“Indonesia memiliki strategi geografis yang luar biasa. Perdagangan internasional banyak yang harus melalui Indonesia,” katanya.
Di tengah tekanan global, James menilai langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi sudah berada di jalur yang tepat. Namun, ia mengingatkan pelaku usaha tetap harus responsif terhadap perubahan yang dapat terjadi dengan cepat.
James juga menyoroti tantangan yang sulit dihindari, seperti kenaikan inflasi dan suku bunga. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut perusahaan lebih berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis dan memilih sektor yang lebih tahan terhadap gejolak.
Dalam konteks itu, Kadin mendorong penguatan sektor yang dinilai lebih resisten, terutama pasar domestik. Konsumsi dalam negeri disebut menjadi penopang utama ekonomi nasional saat ketidakpastian global meningkat.
“Harus mencari peluang yang anti-inflasi dan anti-siklikal, yaitu pasar domestik. Konsumsi domestik itu harus dikembangkan,” ujar James.
Ia menambahkan, sejumlah program pemerintah yang berorientasi pada penguatan konsumsi domestik dinilai strategis. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan perumahan, serta pengembangan pariwisata dalam negeri disebut dapat membantu menjaga daya tahan ekonomi nasional.
“Beberapa inisiatif pemerintah sangat penting dan bagus untuk mendorong konsumsi domestik,” pungkasnya.