Isu pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Tokopedia mencuat setelah adanya laporan internal yang menyebut ratusan karyawan terdampak. Isu ini muncul di tengah langkah efisiensi perusahaan setelah proses integrasi dengan TikTok Shop.
Pada akhir Mei, rumor mengenai rencana PHK di Tokopedia juga ramai diperbincangkan seiring rencana migrasi sistem. Akun Instagram yang membahas isu teknologi dan pekerja sektor teknologi, @ecommurz, menuliskan informasi yang diklaim berasal dari sumber bahwa kebijakan merumahkan karyawan akan terjadi secara massal dan disebut berpotensi menyasar hampir seluruh tim.
Dalam rumor tersebut, angka yang beredar menyebut sekitar 80% karyawan berisiko terdampak PHK, dengan perkiraan hanya menyisakan sekitar 600 pekerja. Disebut pula bahwa karyawan yang bertahan akan pindah ke kantor ByteDance di Jakarta.
Di sisi lain, Bloomberg News pada akhir Mei melaporkan bahwa TikTok tengah bersiap melakukan pemangkasan karyawan. Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut unit e-commerce milik ByteDance Ltd. asal China itu akan memangkas peran kerja di berbagai divisi, termasuk logistik, pemasaran, dan gudang.
Menurut sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan, gelombang PHK disebut akan terjadi pada Juli 2025. Setelah langkah tersebut, jumlah total karyawan TikTok Shop dan Tokopedia di Indonesia dikabarkan menyusut menjadi sekitar 2.500 orang.
TikTok diketahui telah menyelesaikan transaksi kemitraan dengan Tokopedia tahun lalu senilai US$1,5 miliar atau setara Rp24,4 triliun. Kemitraan itu disebut sebagai bagian dari solusi perizinan agar layanan digital commerce tetap dapat beroperasi di Indonesia. Seiring penggabungan TikTok Shop dan Tokopedia, perusahaan kemudian mengambil langkah restrukturisasi.

