Peristiwa Isra dan Miraj dipahami sebagai mukjizat Nabi Muhammad SAW berupa perjalanan dalam satu malam. Dalam tradisi Islam, peristiwa ini menjadi tonggak penting karena berkaitan dengan lahirnya perintah sholat wajib lima waktu bagi umat Islam.
Al-Qur’an mengisahkan perjalanan tersebut dalam Surah Al-Isra ayat 1: “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Pembagian peristiwa: Isra dan Miraj
Secara sederhana, Isra dan Miraj dibagi menjadi dua rangkaian. Isra dimaknai sebagai perjalanan malam Rasulullah SAW dari Ka’bah (Makkah) menuju Baitul Maqdis. Sementara Miraj dimaknai sebagai kenaikan, yakni ketika Allah SWT mengangkat Nabi Muhammad SAW dari Baitul Maqdis melewati langit ke-7 menuju Sidratul Muntaha.
Peringatan 27 Rajab dan penekanan makna sholat
Peringatan Isra Miraj yang jatuh setiap 27 Rajab Hijriah, atau bertepatan dengan 8 Februari 2024, menjadi momen untuk kembali menyoroti esensi peristiwa tersebut. Kaprodi Doktor Manajemen Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Dr. Saiful Bahri, Lc., MA., menyampaikan pandangannya mengenai makna Isra dan Miraj.
Saiful menjelaskan bahwa Isra dan Miraj kerap dipahami sebagai hadiah Allah untuk Rasul-Nya yang sedang berduka karena ditinggal istri dan paman tercinta. Namun, menurutnya, alasan itu kurang tepat jika dijadikan satu-satunya penjelasan.
Ia menyoroti frasa bi’abdihī dalam Surah Al-Isra ayat 1 yang menegaskan status Rasulullah sebagai seorang hamba yang dipanggil oleh Allah SWT. Dari situ, Saiful menekankan bahwa panggilan tersebut mengandung misi tertentu yang harus dijalankan.
Sholat sebagai inti pelajaran Isra Miraj
Menurut Saiful, jika Isra dan Miraj diyakini sebagai peristiwa penting, maka inti dari peristiwa itu adalah kewajiban sholat. Sholat disebut sebagai satu-satunya perintah dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya yang tidak bisa diwakili.
Saiful menyampaikan beberapa pelajaran yang dapat diambil dalam peringatan Isra Miraj:
- Tidak meninggalkan sholat. Saiful menegaskan kewajiban sholat tetap berlaku dalam berbagai kondisi. “Dalam keadaan tenang, perang, bermukim, musafir, sehat, dan sakit kita wajib menunaikan ibadah sholat,” ujarnya.
- Memaknai esensi sholat. Ia mengingatkan bahwa sholat bukan sekadar rangkaian gerakan, melainkan menghadirkan Allah SWT di dalamnya. Sholat dibuka dengan pengagungan kepada Allah SWT, lalu diakhiri dengan salam kepada nabi, “Assalaamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu,” yang menghadirkan Rasulullah SAW. Selain itu, terdapat nilai kebersamaan dalam “Assalaaamu’alainaa wa ‘alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin” yang dimaknai sebagai menjaga kebaikan dan menebarkan keselamatan.
Harapan agar nilai sholat meresap dalam kehidupan
Di bagian akhir, Saiful menekankan pentingnya sholat sebagai sarana meresapi nilai mengagungkan dan membesarkan Allah SWT dalam diri. Ia berharap nilai-nilai itu dapat mendorong seseorang menjadi pembawa salam, rahmat, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan.

