BERITA TERKINI
Investasi Lebih dari US$150 Miliar, China Masih Tertahan Menuju Swasembada Chip Semikonduktor

Investasi Lebih dari US$150 Miliar, China Masih Tertahan Menuju Swasembada Chip Semikonduktor

Upaya China untuk menjadi mandiri dalam produksi chip semikonduktor masih menghadapi hambatan besar, meski pemerintah telah menggelontorkan anggaran lebih dari 150 miliar dolar AS selama lebih dari satu dekade. Tantangan ini mengemuka di tengah optimisme para pemimpin teknologi China terhadap masa depan kepemimpinan global, yang disampaikan dalam konferensi Universitas Tsinghua pada Januari 2026.

Para pemimpin dari perusahaan seperti Tencent, Alibaba, dan Zhipu AI menyatakan keyakinan terhadap prospek teknologi China. Namun, optimisme tersebut berhadapan dengan keterbatasan perangkat keras, terutama kebutuhan akan semikonduktor berkecepatan sangat tinggi yang menjadi fondasi pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Pada 2026, kesenjangan kapasitas produksi diperkirakan masih lebar. Huawei, yang kerap dipandang sebagai salah satu simbol kemajuan teknologi China, mengakui bahwa perusahaan membutuhkan hampir dua tahun lagi untuk memproduksi chip dengan kinerja setara produk Nvidia saat ini. Salah satu faktor utama keterlambatan ini adalah kebijakan kontrol ekspor Amerika Serikat yang membatasi akses China terhadap peralatan litografi canggih dari ASML, perusahaan asal Belanda yang memegang peran penting dalam pembuatan chip paling mutakhir.

Meski pembatasan tersebut memperlambat kemajuan, sanksi juga disebut menjadi pemicu tekad Beijing untuk memperkuat kemandirian. Arus modal besar mengalir ke sektor AI. Dalam setahun terakhir, saham Alibaba dilaporkan naik lebih dari 94%, sementara perusahaan rintisan AI terus menghimpun dana miliaran dolar melalui penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong.

Di sisi industri, perusahaan-perusahaan besar seperti Huawei, Alibaba, dan ByteDance tidak hanya berfokus pada desain chip, tetapi juga ikut membangun puluhan pabrik dan merekrut talenta dari Taiwan serta Korea Selatan untuk menutup kesenjangan teknologi.

Karena tidak dapat mengakses teknologi litografi EUV paling maju dari ASML, China menempuh pendekatan lain melalui komputasi klaster. Dalam strategi ini, perusahaan AI seperti Zhipu dan Huawei menghubungkan sejumlah chip dengan kinerja lebih rendah menjadi klaster komputasi berskala besar, alih-alih mengandalkan satu chip yang sangat canggih.

Namun, pendekatan tersebut belum sepenuhnya mengatasi persoalan produksi. SMIC, produsen chip terbesar di China, dilaporkan masih kesulitan memenuhi permintaan akibat tingkat kerusakan yang tinggi dan konsumsi daya yang besar. Kesenjangan paling mencolok juga terlihat pada segmen chip memori, komponen penting untuk AI. Pada tahun ini, produsen asing diproyeksikan mampu memproduksi kapasitas penyimpanan hingga 70 kali lebih besar dibanding produsen domestik China.

Huawei menjadi contoh paling jelas dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar. Setelah sebelumnya masuk daftar hitam AS, perusahaan itu bertransformasi menjadi salah satu pilar program kemandirian nasional. Meski chip Ascend yang dikembangkan Huawei disebut sebanding dengan beberapa model Nvidia generasi lebih lama, chip tersebut masih bergantung pada komponen yang diproduksi TSMC dan Samsung untuk mempertahankan performanya.

Di tingkat perusahaan rintisan, ketergantungan terhadap chip asing masih terasa. Sejumlah startup AI memilih solusi yang mahal dengan menyewa layanan cloud dari Alibaba atau Amazon untuk mengakses pusat data berisi chip canggih dari jarak jauh. Biaya sewa ini kerap disebut jauh melampaui pendapatan perusahaan, memperlihatkan bahwa ketergantungan pada semikonduktor asing tetap menjadi persoalan yang belum terselesaikan.