Lembaga intelijen Amerika Serikat meyakini Republik Rakyat China tengah mengembangkan “generasi baru” senjata nuklir dan diduga telah melakukan sedikitnya satu uji ledakan yang tidak diumumkan ke publik. Sejumlah pejabat AS yang dikutip CNN pada Senin, 21 Februari 2026, menyebut Beijing berencana meningkatkan kemampuan nuklirnya secara drastis, melampaui sekitar 600 hulu ledak operasional yang saat ini dimiliki.
Seorang sumber anonim dari AS mengatakan pengembangan tersebut mencakup jenis senjata yang benar-benar baru. “Mereka memiliki generasi senjata yang benar-benar baru yang belum memiliki basis data,” ujar sumber itu. Laporan tersebut juga mengindikasikan China kemungkinan telah melakukan uji coba nuklir rahasia pada Februari lalu. Modernisasi program ini disebut didorong investasi dana besar-besaran, meski besaran pastinya tidak diketahui publik.
Fokus pengembangan turut mencakup senjata nuklir taktis berdaya ledak rendah. Senjata jenis ini dirancang untuk digunakan dalam skenario tertentu, termasuk kemungkinan intervensi militer Amerika Serikat dalam membela Taiwan. Sejumlah pejabat AS memandang pengembangan tersebut sebagai indikasi pergeseran pendekatan strategis Beijing, terutama terkait potensi konflik di kawasan Indo-Pasifik.
Selain dugaan uji terbaru, perhatian Washington juga tertuju pada informasi mengenai uji ledakan nuklir yang disebut terjadi pada Juni 2020 di fasilitas rahasia Lop Nur, di wilayah barat laut China. Uji coba itu disebut berlangsung meski China menerapkan moratorium uji coba nuklir secara sepihak sejak 1996. Informasi baru terkait peristiwa 2020 tersebut memperkuat kecurigaan AS bahwa China terus memajukan program nuklirnya.
Asisten Menteri Luar Negeri AS, Christopher Yeaw, mengatakan uji coba pada 2020 itu tercatat dengan kekuatan 2,75 skala Richter. “Saya telah melihat data tambahan sejak saat itu,” kata Yeaw. “Sangat kecil kemungkinan saya akan mengatakan bahwa itu adalah sesuatu selain ledakan, satu ledakan tunggal.”
Menanggapi tudingan tersebut, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, DC, menyatakan Amerika Serikat telah “mendistorsi dan mencemarkan kebijakan nuklir China.” Hingga kini, ketegangan antara Washington dan Beijing terkait isu nuklir dan keamanan kawasan tetap menjadi perhatian internasional, terutama di tengah meningkatnya dinamika geopolitik di sekitar Taiwan dan Indo-Pasifik.

