JAKARTA — Perkembangan ekonomi digital mendorong kian maraknya platform perdagangan elektronik yang memudahkan pembelian barang dan jasa lintas negara. Dalam ekosistem tersebut, metode pembayaran digital menjadi faktor penting dalam keputusan konsumen untuk bertransaksi, sehingga integrasi antarsistem pembayaran dinilai semakin dibutuhkan.
Penyedia infrastruktur gerbang pembayaran PPRO yang berkantor pusat di London mengumumkan integrasi JeniusPay dan LinkAja ke dalam sistemnya pada Selasa (7/9/2021). Kedua layanan itu menyusul Doku dan Ovo yang lebih dulu terhubung. Melalui integrasi tersebut, PPRO menyatakan telah menghimpun lebih dari 100 perusahaan penyedia layanan pembayaran digital global dalam jaringannya, termasuk GrabPay, AliPay, WeChat Pay, dan BLIK.
Global Head of Payment Networks PPRO Kelvin Phua mengatakan PPRO mulai aktif di Indonesia sejak 2020 dan berupaya mengajak para pemain metode pembayaran digital untuk terintegrasi dalam sistem PPRO.
Preferensi pembayaran digital terfragmentasi
Chief International Partnership PT Nusa Satu Inti Artha (Doku) Alison Jap menilai salah satu keunikan pasar Indonesia adalah preferensi pembayaran digital yang terfragmentasi. Dalam praktiknya, satu lokapasar dapat menyediakan berbagai opsi pembayaran, mulai dari transfer bank, kartu debit/kredit, hingga beragam dompet elektronik. Menurut dia, perbedaan usia, kelas ekonomi, dan lokasi geografis ikut membentuk keragaman pilihan metode pembayaran.
Alison juga membandingkan pola pembayaran di tingkat internasional yang umumnya mengandalkan kartu kredit untuk belanja barang atau konten daring. Sementara di Indonesia, jumlah pemilik kartu kredit disebut sekitar 17 juta orang, sehingga potensi konsumen layanan digital dinilai melampaui kelompok tersebut.
Ia menambahkan, integrasi sistem pembayaran dapat memudahkan perusahaan penyedia layanan pembayaran maupun merek internasional untuk masuk ke pasar lokal, termasuk Indonesia, sekaligus meningkatkan penjualan.
Frekuensi penggunaan meningkat, transaksi nasional bertumbuh
Survei Kadence International bertajuk “Penggunaan dan Perilaku Pengguna Pembayaran Digital dan Layanan Keuangan di Indonesia” (30/8/2021) menunjukkan 44 persen dari 1.000 responden yang disurvei pada Juli 2020 menggunakan layanan pembayaran digital setidaknya empat kali dalam seminggu untuk membayar lima jenis transaksi daring:
- pembelian pulsa layanan seluler,
- transportasi,
- pemesanan makanan,
- belanja barang,
- pembayaran tagihan.
Responden berasal dari kelompok usia 18–24 tahun (25 persen), 25–29 tahun (18 persen), 30–34 tahun (18 persen), 35–39 tahun (18 persen), dan 40–45 tahun (20 persen). Mereka berdomisili di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Makassar, Medan, dan Palembang, dengan 58 persen berlatar belakang kelas menengah.
Survei tersebut juga mencatat rata-rata responden mengetahui lima sampai enam merek dompet elektronik. Rata-rata responden pernah menggunakan tiga sampai empat aplikasi dompet elektronik dan dalam satu bulan terakhir menggunakan dua sampai tiga aplikasi.
Di tingkat makro, data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi pembayaran digital meningkat dari Rp 145 triliun pada 2019 menjadi Rp 205 triliun pada 2020.
Dampak pandemi dan peluang lintas batas
Head of Corporate Communications Ovo Harumi Supit mengatakan peningkatan aktivitas belanja di platform e-dagang selama pandemi Covid-19 turut mendorong kenaikan transaksi pembayaran digital. Di Ovo, volume transaksi pada paruh pertama 2021 disebut naik 76 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020.
Ia menyebut Ovo telah menjadi pilihan metode pembayaran di sejumlah platform e-dagang, antara lain Bhinneka.com, Blibli.com, Lazada Indonesia, Sayurbox, Sociolla, dan Zalora Indonesia.
Harumi juga menilai pemberlakuan Persetujuan ASEAN tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik dapat memperbesar peluang transaksi pembayaran digital lintas negara. Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) maupun perusahaan teknologi finansial di bidang pembayaran untuk memperluas pangsa pasar.
Persaingan meningkat, dampak konsumsi dinilai lebih besar
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede berpendapat integrasi sejumlah penyedia gerbang pembayaran atau dompet elektronik Indonesia ke sistem PPRO dapat meningkatkan persaingan di bisnis jasa pembayaran. Integrasi juga membuka kemungkinan pengguna gerbang pembayaran melakukan transaksi internasional.
Namun, ia menilai integrasi semacam itu berpotensi lebih menguntungkan konsumen untuk berbelanja di platform e-dagang luar negeri dibandingkan mendorong transaksi dari pengusaha dalam negeri. Alasannya, platform e-dagang Indonesia dinilai belum memiliki cakupan dan pasar yang memadai di luar negeri. Sementara itu, lokapasar lintas negara seperti Lazada dan Shoppee disebut membatasi cakupan barang yang dapat dibeli pada laman masing-masing negara.
“Oleh karena itu, selama belum cukup ada pemilik platform e-dagang yang mampu memasarkan barang Indonesia ke luar negeri melalui jaringannya, pembukaan gerbang pembayaran cenderung lebih berdampak pada sisi konsumsi dibandingkan produksi,” kata Josua.
QRIS lintas batas Indonesia–Thailand
Dalam pengembangan pembayaran lintas batas, Bank Indonesia telah bekerja sama dengan Bank Sentral Thailand untuk implementasi QRIS lintas negara. Melalui koneksi tersebut, konsumen dan pedagang di Indonesia dan Thailand dapat melakukan serta menerima pembayaran QR lintas batas secara instan untuk barang dan jasa.
Skema ini menghubungkan operator sistem pembayaran ritel di kedua negara. Pengguna dari Indonesia dapat memindai kode QR Thailand untuk membayar merchant di Thailand. Sebaliknya, pengguna dari Thailand dapat memindai QRIS untuk pembayaran di Indonesia, termasuk untuk transaksi e-dagang lintas batas. Layanan ini diproyeksikan bermanfaat bagi pelaku transaksi lintas negara, termasuk wisatawan.
Josua menyampaikan, capaian yang diharapkan dari proyek pembayaran lintas batas pertama ini tidak hanya untuk memfasilitasi transaksi pariwisata, tetapi juga membantu UMKM di sektor terkait. Ia menilai interkoneksi QR dapat mendorong inklusi keuangan, ekonomi digital yang lebih inklusif, serta transaksi di platform e-dagang.
Menurut dia, layanan tersebut semestinya turut membantu aktivitas jual-beli daring selama pandemi Covid-19. Lebih jauh, koneksi pembayaran lintas batas, termasuk dengan negara-negara ASEAN, dinilai dapat berkontribusi pada transformasi digitalisasi ekonomi di tingkat regional.

