Jakarta — Langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam memperkuat kolaborasi energi di kawasan Indo-Pasifik mendapat apresiasi. Inisiatif tersebut dinilai sebagai langkah taktis untuk memperkukuh posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik serta ketidakpastian pasokan energi global yang semakin menantang.
Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman, menilai kerja sama dan sinergi antarnegara di sektor energi akan berperan penting dalam memperkuat posisi masing-masing negara dalam mewujudkan kemandirian energi. Ia menyebut kolaborasi yang mencakup sektor hulu hingga hilir dapat memberikan manfaat dalam mengoptimalkan daya dukung energi bagi kemajuan setiap negara.
“Kerja sama dan sinergi ini akan sangat penting dalam memperkuat posisi masing-masing negara dalam mewujudkan kemandirian energi. Kerja sama yang meliputi hulu sampai hilir akan memberikan manfaat dalam optimalisasi daya dukung energi bagi kemajuan masing-masing,” ujar Abdul Rahman di Jakarta, dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 16 Maret 2026.
Abdul juga menegaskan Indonesia memiliki modalitas besar untuk menjadi pemain kunci dalam ekosistem energi regional. Menurutnya, hal itu didukung oleh melimpahnya sumber daya alam, kapasitas industri yang terus berkembang, serta potensi besar dalam pengembangan energi baru terbarukan (EBT).
Ia menilai pendekatan kolaboratif yang diusung Bahlil menunjukkan sektor energi telah bertransformasi menjadi salah satu pilar utama diplomasi ekonomi. Sinergi dari hulu hingga hilir diyakini dapat memperkuat rantai pasok nasional, sekaligus mendorong aliran investasi dan transfer teknologi yang lebih masif ke Indonesia.
“Langkah yang ditempuh Menteri Bahlil ini bukan hanya soal kerja sama energi semata, tetapi juga tentang memperkuat posisi strategis Indonesia dalam peta energi kawasan. Jika kolaborasi ini terus diperkuat, Indonesia dapat menjadi salah satu pusat kekuatan energi di Indo-Pasifik,” kata Abdul.

