Dikelilingi suara mesin pencelupan dan alat tenun, David Leonardi berjalan menyusuri pabrik tekstil keluarganya di selatan Bandung dengan campuran rasa bangga dan cemas. Usaha yang dirintis ayahnya hampir 50 tahun lalu itu berada di kota yang lama dikenal sebagai salah satu pusat industri tekstil Indonesia. Namun, David mengatakan tantangan yang dihadapi saat ini terasa paling berat.
Industri tekstil Indonesia sebelumnya terpukul pandemi COVID-19. Dalam beberapa tahun terakhir, produsen di kawasan ini juga menghadapi persaingan ketat dari produk-produk China yang kian mendominasi pasar, sehingga menggerus ruang bagi produsen Asia Tenggara.
Tekanan baru datang dari kebijakan tarif Amerika Serikat yang baru-baru ini diterapkan Presiden Donald Trump. Kebijakan tersebut dinilai akan semakin membebani bisnis berbasis ekspor, termasuk pabrik milik David. Ia mengeluhkan situasi ini, seraya mempertanyakan mengapa pasokan dari Indonesia tidak diberi ruang.
Presiden Trump dijadwalkan tiba di Malaysia pada akhir pekan untuk menghadiri KTT ASEAN ke-47. Kunjungannya berlangsung di tengah penulisan ulang kebijakan perdagangan AS, serta sikap dukungannya terhadap Israel dalam perang Gaza yang memicu kemarahan di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim.
Perekonomian Asia Tenggara yang banyak bergantung pada ekspor ke AS mulai merasakan dampak agenda proteksi tersebut. Sejumlah negara ASEAN disebut akan dikenakan tarif sekitar 19–20 persen. Meski kebijakan itu baru berjalan tiga bulan, pelaku usaha yang bergantung pada ekspor menyatakan kekhawatiran atas dampaknya.
Laporan United Nations Development Program (UNDP) pada September memperingatkan ekspor dari Asia Tenggara ke AS berpotensi terdampak serius dan diperkirakan turun hampir 10 persen akibat kenaikan harga yang dipicu tarif. David memperkirakan dampak bagi perusahaannya bisa lebih buruk.
Menurutnya, jika tarif berlanjut, ekspor pabriknya ke AS dapat turun 20–30 persen dalam satu hingga dua tahun ke depan. Ia mengkhawatirkan efeknya bagi pekerja, terutama setelah setengah tenaga kerja dirumahkan dan lebih dari seribu buruh pabrik diberhentikan dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai ini bisa menjadi masalah besar karena tekstil termasuk sektor yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan rendah.
Di sisi lain, importir AS disebut sudah mulai meminta diskon agar harga tetap kompetitif di pasar mereka. Tekanan terhadap margin bisnis pun meningkat.
Kekhawatiran pelaku industri tidak hanya terkait penurunan ekspor ke AS. Dalam perang dagang AS–China pada masa pemerintahan Trump pertama, banyak eksportir China mengalihkan barang melalui Asia Tenggara untuk menghindari tarif, praktik yang dikenal sebagai transshipment. Praktik ini kini menjadi perhatian pejabat AS dan telah tercantum dalam perjanjian perdagangan bilateral yang dibuat AS dengan mitra dagangnya tahun ini.
Dengan pasar AS yang semakin tidak menentu dan tarif tinggi untuk transshipment, eksportir China mengubah strategi. Asia Tenggara tidak lagi sekadar titik transit, tetapi juga menjadi tujuan perdagangan. UNDP mencatat setelah Presiden Trump mengumumkan tarif pada April, ekspor China ke negara-negara ASEAN naik sekitar 20 persen, dan pertumbuhan ekspor ke kawasan ini tetap tinggi.
Bagi produsen di Indonesia, kondisi tersebut memunculkan tantangan baru karena pasar dibanjiri barang impor. David mengatakan produk impor dari China bisa tiga hingga empat kali lebih murah dibandingkan produk lokal, situasi yang menurutnya membuat industri dalam negeri sulit bertahan.
Di Pasar Tanah Abang, Jakarta, sejumlah pedagang disebut enggan membicarakan penjualan produk China karena dianggap tabu. Namun seorang pedagang bernama Farel menyebut impor dari China sangat menekan produk lokal karena kualitasnya dinilai bagus dan harganya kompetitif.
Pemerintah Indonesia merespons dengan memberlakukan tarif selama tiga tahun atas impor produk benang kapas. Kebijakan itu diambil setelah adanya lobi dari asosiasi industri, termasuk surat kepada Menteri Keuangan yang memperingatkan soal “impor ilegal dan dumping produk China”.
Wakil Menteri pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Pambudi, mengatakan pemerintah memantau “kelebihan pasokan” barang dari China sebagai dampak konflik dagang AS–China. Ia menyebut Indonesia memahami pertimbangan AS terkait defisit perdagangan, namun menekankan perlunya menjaga keseimbangan dan pasar tetap terbuka. Menurutnya, tidak ada negara yang bisa memproduksi semua hal sendiri, sehingga kerja sama antarnegara tetap dibutuhkan.
Sementara para pemimpin ASEAN diperkirakan memanfaatkan KTT untuk membahas tarif dan perdagangan dengan Presiden Trump, agenda lain disebut berpotensi menyita perhatian, yakni kesepakatan gencatan senjata Thailand dan Kamboja yang disebut “Kuala Lumpur Accord”. Kesepakatan itu merupakan perluasan dari gencatan senjata atas konflik lima hari pada Juli, yang mencakup kewajiban menghapus ranjau dan artileri berat dari perbatasan.
Media Politico melaporkan kehadiran Presiden Trump di ASEAN bergantung pada berlangsungnya upacara kesepakatan damai tersebut. Jika upacara itu menjadi fokus, perhatian para pemimpin Asia Tenggara yang ingin meningkatkan hubungan bilateral dengan AS—termasuk upaya menurunkan tarif atau memperoleh pengecualian untuk produk tertentu—dapat teralihkan.
Pada Mei, pernyataan bersama para pemimpin ASEAN menyoroti tarif Trump yang mereka sebut sebagai “ketidakpastian perdagangan global”. ASEAN juga menilai tindakan perdagangan sepihak dan balasan bersifat kontraproduktif serta berisiko memperparah fragmentasi ekonomi global, terutama ketika dampaknya tidak langsung mengenai kawasan.
Di tengah ketidakpastian itu, pelaku industri seperti David berharap Indonesia dapat menekan tarif agar eksportir memperoleh sedikit keringanan. Namun, dampak lanjutan perang dagang AS–China—termasuk meningkatnya ekspor China ke Asia Tenggara—dinilai berpotensi menjadi ancaman jangka panjang bagi produsen kawasan dan sulit dipulihkan seperti sebelumnya.

