BERITA TERKINI
Industri Kedelai AS: China Tetap Pelanggan Terbesar dan Kunci Stabilitas Ekspor

Industri Kedelai AS: China Tetap Pelanggan Terbesar dan Kunci Stabilitas Ekspor

China dinilai tetap menjadi pasar ekspor paling penting bagi kedelai Amerika Serikat (AS), sekaligus pelanggan terbesar yang sulit tergantikan bagi industri tersebut. Penilaian ini muncul di tengah sinyal stabilisasi hubungan dagang AS-China, di mana kedelai menjadi salah satu komoditas dengan porsi signifikan dalam arus perdagangan kedua negara.

Data terbaru dari U.S. Soybean Export Council (USSEC) menunjukkan total 22,6 juta ton kedelai AS diekspor ke China pada tahun panen 2024/25. Presiden dan CEO USSEC, Jim Sutter, menyatakan dirinya “optimis dengan hati-hati” bahwa ekspor kedelai AS ke China dapat tetap stabil di kisaran 20 juta ton per tahun, dengan alasan tingkat komplementaritas yang tinggi antara kebutuhan China dan pasokan AS.

Menurut Sutter, USSEC telah beroperasi di China selama lebih dari 40 tahun. Dalam beberapa dekade terakhir, China secara konsisten menjadi tujuan ekspor terbesar kedelai AS, yang biasanya menyumbang sekitar setengah dari total ekspor kedelai AS setiap tahun. Ia menekankan nilai perdagangan tersebut mencapai miliaran dolar bagi petani AS dan seluruh rantai pasok.

Sutter juga menyoroti dampak ekonomi yang lebih luas. Ia menyatakan perdagangan kedelai dengan China mendukung lapangan kerja tidak hanya di sektor pertanian, tetapi juga di komunitas pedesaan, transportasi, pelabuhan ekspor, serta berbagai industri jasa terkait di seluruh AS.

Dari sisi permintaan, Sutter menyebut China sangat bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan kedelai, dengan sebagian besar pasokan digunakan untuk peternakan, akuakultur, dan industri makanan. Kondisi ini membentuk hubungan saling bergantung: petani AS mengandalkan China sebagai pembeli utama, sementara perusahaan pakan dan makanan di China mengandalkan AS sebagai pemasok yang dinilai andal dan berkualitas tinggi.

Ia menilai hubungan perdagangan kedelai AS-China penting untuk menjaga pendapatan petani dan peluang ekonomi di AS, sekaligus menopang keamanan pangan dan pakan ternak di China.

Di tingkat makro, Administrasi Umum Bea Cukai China mencatat bahwa pada tahun lalu perdagangan China-AS menunjukkan tanda-tanda stabilisasi setelah beberapa putaran negosiasi tarif bilateral. Volume perdagangan China dengan AS dilaporkan melebihi 4 triliun yuan (US$573 miliar), setara 8,8% dari total nilai impor dan ekspor China pada 2025.

Sutter menekankan bahwa bagi industri kedelai AS, hubungan ekonomi dan perdagangan yang stabil serta dapat diprediksi menjadi faktor krusial. Ia mencatat bahwa ketika tarif meningkat, muncul bea masuk balasan, dan ketidakpastian kebijakan menguat, ekspor kedelai AS ke China sempat anjlok. Volatilitas tersebut, menurutnya, menyulitkan petani dan eksportir AS dalam merencanakan serta berinvestasi untuk masa depan.

Ia menambahkan, akses ke pasar yang stabil dinilai dapat meningkatkan kepercayaan dan peluang perdagangan bagi kedua pihak. Sutter juga menyebut China telah memenuhi sebagian besar komitmennya, termasuk perjanjian awal untuk membeli 12 juta ton kedelai AS, yang menurutnya turut memulihkan kepercayaan dari pihak AS.

Dengan latar itu, Sutter menyatakan optimisme terhadap kelanjutan perdagangan kedelai dengan China. Ia menegaskan China tetap menjadi pasar ekspor terpenting bagi AS, dan petani AS ingin mempertahankan hubungan jangka panjang dengan pembeli di China.