Jakarta — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Situasi tersebut memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global.
Di tengah meningkatnya tensi, Indonesia memilih jalur diplomasi. Pemerintah memanfaatkan komunikasi bilateral dan forum internasional untuk mendorong deeskalasi, sejalan dengan tradisi politik luar negeri bebas aktif yang menekankan perundingan dan penyelesaian damai.
Pemerintah juga menilai konflik berpotensi memunculkan ketidakpastian ekonomi, terutama melalui dampaknya terhadap harga energi dan biaya perdagangan global. Karena itu, situasi dinilai perlu diantisipasi dengan kebijakan ekonomi yang tepat.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan kesiapan Indonesia untuk berperan dalam meredam ketegangan di Timur Tengah dan mendorong semua pihak kembali ke meja perundingan. Pendekatan tersebut disebut sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang menekankan dialog dan kerja sama internasional demi menjaga stabilitas kawasan.
Dampak konflik dinilai tidak berhenti di Timur Tengah. Indonesia melihat gelombangnya dapat terasa hingga Asia, termasuk melalui sektor energi dan perdagangan. Timur Tengah merupakan jalur utama distribusi minyak dunia, sehingga ketegangan militer berpotensi mendorong lonjakan harga energi yang pada akhirnya membebani perekonomian Indonesia sebagai negara pengimpor.
Stabilitas perdagangan global juga dinilai rentan terdampak. Jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Asia, Eropa, dan Afrika berisiko terganggu, yang dapat menimbulkan hambatan pada rantai pasok internasional serta meningkatkan biaya logistik.
Selain itu, konflik dinilai berpotensi memperdalam polarisasi geopolitik dunia dan memengaruhi stabilitas kawasan lain, termasuk Asia. Bagi Indonesia, upaya meredam ketegangan dipandang bukan semata kepentingan regional, melainkan bagian dari menjaga stabilitas global yang berdampak langsung pada kepentingan nasional.
Komunikasi antarpemimpin
Salah satu langkah yang ditempuh Indonesia adalah membangun komunikasi langsung dengan para pemimpin dunia. Presiden Prabowo melakukan pembicaraan dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif untuk membahas upaya bersama menurunkan ketegangan di Timur Tengah. Pakistan dipandang memiliki posisi penting di dunia Islam serta hubungan historis dengan Iran.
Indonesia juga menjalin komunikasi dengan para pemimpin negara Teluk, termasuk Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani serta Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman. Qatar dikenal aktif dalam berbagai upaya mediasi konflik regional, sementara Arab Saudi memiliki pengaruh besar dalam stabilitas kawasan.
Melalui komunikasi tersebut, Indonesia mendorong langkah-langkah kolektif untuk menahan eskalasi dan membuka kembali ruang dialog.
Prinsip bebas aktif dan peluang peran lebih besar
Langkah Indonesia dalam merespons konflik ini mencerminkan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Prinsip tersebut menjadi fondasi diplomasi Indonesia sejak awal kemerdekaan: bebas berarti tidak terikat pada blok kekuatan tertentu, sementara aktif berarti berkontribusi nyata dalam menciptakan perdamaian dunia.
Dalam konteks ketegangan di Timur Tengah, pendekatan ini memungkinkan Indonesia menjaga komunikasi dengan berbagai pihak, baik negara Barat maupun dunia Islam, sekaligus mendorong solusi damai. Pemerintah menekankan diplomasi yang tidak konfrontatif, dengan membangun tekanan politik melalui konsolidasi suara internasional yang mendukung dialog dan penghentian kekerasan.
Presiden Prabowo juga menegaskan kesiapan Indonesia untuk membantu memfasilitasi dialog jika diperlukan. Meski mediasi formal belum terjadi, langkah-langkah diplomasi yang ditempuh menunjukkan arah kebijakan luar negeri Indonesia yang semakin proaktif, dengan menjaga pintu perundingan tetap terbuka dan berupaya meredam konflik sebelum meluas.
Menjaga komunikasi dengan Iran
Selain menjalin komunikasi dengan para pemimpin kawasan, Indonesia juga menjaga hubungan diplomatik dengan Iran. Dengan hubungan yang dinilai seimbang dengan berbagai pihak di Timur Tengah, Indonesia memiliki ruang untuk menyampaikan pesan diplomatik secara terbuka.
Melalui jalur diplomasi, Indonesia mendorong semua pihak untuk menahan diri dan menghindari tindakan balasan yang dapat memperburuk situasi. Pemerintah menilai aksi balasan kerap menjadi pemicu eskalasi yang sulit dikendalikan, sehingga menahan reaksi militer menjadi bagian penting dari strategi deeskalasi.
Penguatan pesan melalui forum internasional
Diplomasi Indonesia juga dilakukan melalui berbagai forum internasional untuk membangun tekanan politik kolektif. Di tingkat kawasan, negara-negara anggota ASEAN menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati hukum internasional, serta menegaskan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Malaysia dan Brunei Darussalam mengecam serangan terhadap Iran. Sementara negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Indonesia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Thailand menekankan pentingnya menahan diri serta meningkatkan perlindungan bagi warga mereka di kawasan Timur Tengah.
Dalam lingkup kerja sama Developing Eight (D-8), beberapa negara anggota seperti Malaysia, Turki, Pakistan, dan Iran juga menyampaikan keprihatinan terhadap eskalasi militer serta menyerukan penghentian kekerasan. D-8 merupakan organisasi kerja sama pembangunan yang beranggotakan Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Turki, dan sejak Desember 2024, Azerbaijan.
Tekanan kolektif dari berbagai forum tersebut memperkuat pesan bahwa komunitas global tidak menginginkan konflik berkembang menjadi perang terbuka.
Diplomasi tanpa retorika konfrontatif
Pendekatan Indonesia ditandai dengan upaya yang konstruktif tanpa retorika keras. Pemerintah menekankan sikap tegas pada prinsip, namun tetap membuka ruang dialog bagi semua pihak. Dalam konflik yang kompleks, pendekatan ini diarahkan untuk mendorong terbentuknya konsensus dan menahan langkah-langkah yang dapat memperburuk keadaan.
Respons Indonesia terhadap konflik AS-Israel dan Iran memperlihatkan upaya untuk memposisikan Jakarta sebagai aktor yang lebih aktif mendorong solusi diplomatik. Melalui komunikasi antarpemimpin, penggalangan dukungan internasional, serta dorongan terhadap dialog, Indonesia berupaya membangun tekanan politik guna meredam eskalasi dan menjaga peluang perundingan tetap terbuka.

