Pemerintah menyatakan keterlibatan Indonesia dalam forum Board of Peace (BoP) menjadi babak baru diplomasi Indonesia di tingkat internasional, terutama terkait dukungan terhadap isu Palestina. Keikutsertaan ini disebut bukan sekadar simbolik, melainkan langkah konkret untuk memperkuat peran Indonesia dalam mendorong perdamaian dunia.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menilai partisipasi Indonesia dalam BoP sebagai sejarah baru diplomasi RI. Ia mengatakan, selama ini Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina melalui jalur diplomasi formal, seperti penyampaian sikap di forum internasional. Namun, ruang untuk terlibat langsung dinilai masih terbatas.
“Ini sejarah baru maksudnya sebelum-sebelumnya kita melakukan pendekatan terhadap sikap kita untuk kemerdekaan Palestina dengan cara tentu setiap ada aksi serangan kita mengecam, di PBB kita mengecam. Tapi sulit sekali kita masuk dan terlibat aktif sebagaimana yang diamanahkan oleh konstitusi,” kata Meutya.
Menurut Meutya, Indonesia kini tidak hanya menyuarakan sikap, tetapi juga dilibatkan dalam upaya stabilisasi dan misi kemanusiaan. Ia menyebut Indonesia akan mengirimkan 8.000 pasukan perdamaian serta ditunjuk sebagai wakil komandan dalam misi International Stabilization Force (ISF).
“Berarti untuk hal-hal giat kemanusiaan yang dilakukan oleh tentara-tentara tidak hanya Indonesia tapi banyak negara di sana, kita punya say atau komando yang cukup kuat,” ujarnya.
Meutya menilai keterlibatan tersebut mencerminkan pergeseran dari peran yang lebih normatif—berupa pernyataan politik dan dukungan moral—menuju diplomasi yang lebih partisipatif dan operasional. Ia juga mengungkapkan kebanggaannya atas hasil pertemuan pertama BoP yang disebut berlangsung di Amerika.
“Saya rasa ini yang membuat kita kemarin cukup lega, bangga, melihat hasil dari pertemuan pertama BoP yang kemarin diselenggarakan di Amerika,” lanjut Meutya.
Ia menambahkan, Indonesia dinilai perlu mengambil peran yang lebih aktif dalam dinamika geopolitik global. Menurutnya, keterlibatan dalam BoP menjadi langkah besar yang menunjukkan kesiapan Indonesia memikul tanggung jawab lebih besar dalam menjaga stabilitas dan perdamaian internasional.
“It’s a big step dan sudah saatnya,” tuturnya.
Pemerintah menilai langkah ini sejalan dengan amanat konstitusi bahwa Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dengan bergabung dalam Board of Peace dan peran strategis di ISF, Indonesia disebut menawarkan model diplomasi yang lebih hadir di lapangan, tidak hanya menyampaikan sikap, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya penyelesaian dan stabilisasi.

