BERITA TERKINI
INDODAX: Geopolitik dan Inflasi Dorong Bitcoin Mendekati US$75.000

INDODAX: Geopolitik dan Inflasi Dorong Bitcoin Mendekati US$75.000

Harga Bitcoin melonjak sekitar 6% hingga mendekati US$75.000 di tengah gejolak geopolitik yang memicu fenomena short squeeze besar-besaran. Kenaikan ini dikaitkan dengan blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat, yang kemudian direspons Iran dengan kebijakan mewajibkan pembayaran “tol” dalam bentuk Bitcoin bagi kapal tanker yang melintas.

Dinamika tersebut memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar dan kembali menyoroti peran aset kripto dalam merespons tekanan global. Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan menguatnya posisi kripto dalam menghadapi situasi ekonomi dan geopolitik.

“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global,” ujar Antony, Kamis (17/4/2026).

Iran disebut mengenakan tarif setara US$1 per barel dalam bentuk Bitcoin. Kebijakan ini dinilai menciptakan permintaan organik secara cepat, sekaligus memanfaatkan sistem pembayaran berbasis blockchain agar transaksi tetap berjalan serta sebagai strategi untuk menghindari sanksi internasional melalui sistem keuangan di luar jangkauan Amerika Serikat.

Dari sisi makroekonomi, inflasi (CPI) Amerika Serikat tercatat naik menjadi 3,3% pada Jumat (10/4). Angka ini lebih tinggi dibanding tren 1–2 tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4%–3%. Kenaikan harga yang dipengaruhi konflik di Timur Tengah turut meningkatkan ekspektasi inflasi bertahan tinggi, sehingga mendorong sebagian investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin dan memperkuat narasi sebagai safe haven.

Pada rentang US$74.000–US$75.000, penguatan Bitcoin juga disebut mendapat dukungan dari arus masuk dana ke ETF Bitcoin spot yang mencapai sekitar US$1,94 miliar sepanjang Maret hingga April. Likuiditas tersebut dinilai memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.

Sentimen positif juga merambat ke aset kripto lain. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) naik 8% ke US$2.380, Solana (SOL) menguat 5,2% ke US$86,60, dan BNB naik 3,2% ke US$615,50.

Antony menilai perkembangan ini menunjukkan industri kripto memasuki fase baru dalam adopsi. “Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik, perdagangan internasional dan hal ini perkembangan yang penting dalam sistem ekonomi global,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Sejumlah faktor lain, seperti kebutuhan likuiditas menjelang rilis Producer Price Index, penjualan pajak di Amerika Serikat, serta perubahan kebijakan moneter, disebut berpotensi memengaruhi pergerakan harga dalam jangka pendek.