BERITA TERKINI
Indo-Pasifik Jadi Arena Persaingan AS-China, ASEAN Berada di Titik Tengah

Indo-Pasifik Jadi Arena Persaingan AS-China, ASEAN Berada di Titik Tengah

Kawasan Indo-Pasifik kian menjadi pusat perhatian dunia seiring kebangkitan China sebagai kekuatan besar yang mampu menantang Amerika Serikat. Pada saat yang sama, Asia-Pasifik kini dipandang sebagai episentrum pertumbuhan ekonomi global. Kombinasi kedua faktor tersebut membuat Indo-Pasifik kerap dilihat sebagai arena persaingan pengaruh dua kekuatan besar, China dan AS.

Di dalam lanskap itu, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN menempati posisi penting. Sebagai bagian dari Indo-Pasifik, ASEAN menjadi kawasan yang diperebutkan pengaruhnya. Upaya memperbesar pengaruh di Asia Tenggara dinilai krusial bagi kedua negara dalam persaingan yang berlangsung.

Pesan AS di ARF: kebebasan navigasi dan rujukan UNCLOS

Dalam Forum Regional ASEAN (ARF) yang digelar di Jakarta pekan lalu, terlihat pendekatan yang dibawa AS dan China untuk meraih dukungan di antara negara-negara Asia Tenggara. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken, seusai ARF pada Jumat (14/7/2023), menekankan kebebasan bagi siapa pun untuk terbang, berlayar, dan bertukar ide di Indo-Pasifik berdasarkan hukum internasional, termasuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS). Ia juga menyampaikan keinginan Washington untuk menempuh pendekatan kerja sama yang menyentuh langsung pembangunan negara-negara anggota ASEAN.

Penekanan pada UNCLOS muncul di tengah sengketa teritorial antara sejumlah negara Asia Tenggara dan China di Laut China Selatan. Mahkamah Arbitrase Internasional (PCA) pada 2016 menolak klaim sepihak China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan karena dinilai tidak sesuai dengan UNCLOS. Putusan tersebut keluar atas pengaduan Filipina, namun dalam praktiknya putusan itu tidak dapat diterapkan di lapangan.

Sikap China: menolak perlombaan senjata dan konfrontasi blok

Dari sisi China, pesan yang disampaikan menyoroti penolakan terhadap kehadiran kekuatan asing dan perlombaan senjata. Dalam sidang ARF, Direktur Komisi Pusat Kebijakan Luar Negeri Partai Komunis China Wang Yi menyatakan Asia-Pasifik tidak memerlukan perlombaan senjata dan tidak membutuhkan model konfrontasi blok. Ia juga menyebut kawasan ini menolak “Asia-Pasifik versi NATO”.

Pernyataan itu merujuk pada kerja sama pertahanan Australia, Inggris, dan AS (AUKUS) yang bertujuan membantu Australia memiliki kapal selam bertenaga nuklir. Pada saat yang sama, muncul pula rencana NATO untuk mendirikan kantor perwakilan di Jepang.

ASEAN di antara dua kekuatan besar

Di tengah persaingan tersebut, ASEAN berada di posisi yang tidak sederhana. Di dalam ASEAN terdapat negara anggota yang cenderung lebih dekat ke China, namun ada pula yang condong ke AS. Tantangan utama bagi ASEAN adalah mengelola situasi agar persaingan pengaruh tidak merugikan negara-negara anggotanya. Sebaliknya, dinamika itu diharapkan dapat diarahkan untuk mendukung pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan.

  • Indo-Pasifik dipandang strategis karena kebangkitan China dan pergeseran pusat pertumbuhan global ke Asia-Pasifik.
  • AS menekankan kebebasan navigasi dan rujukan pada UNCLOS di tengah sengketa Laut China Selatan.
  • China menolak perlombaan senjata dan konfrontasi blok, serta mengkritik model “Asia-Pasifik versi NATO”.
  • ASEAN dituntut menjaga keseimbangan agar persaingan kekuatan besar tidak merugikan kawasan.