Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,0%, dari sebelumnya 5,1% dalam laporan Januari 2026. Revisi ini terjadi seiring memburuknya kondisi ekonomi global yang dipengaruhi konflik geopolitik, lonjakan harga energi, serta meningkatnya ketidakpastian.
Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) April 2026, IMF memperkirakan ekonomi global pada 2026 hanya tumbuh 3,1%. IMF menilai konflik di Timur Tengah telah mengganggu rantai pasok global, mendorong kenaikan harga komoditas, dan memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara. “Pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat secara bertahap,” tulis IMF dalam laporan tersebut.
IMF juga menekankan bahwa negara berkembang menghadapi risiko yang lebih besar. Menurut IMF, negara-negara ini berisiko mengalami dampak yang lebih besar akibat kenaikan harga energi dan pangan serta depresiasi nilai tukar.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama di balik penyesuaian proyeksi. IMF memperkirakan harga energi global meningkat sekitar 19% pada 2026, berbalik dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan penurunan harga. Kenaikan ini dinilai dapat meningkatkan biaya produksi dan logistik, serta berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Selain harga energi, ketidakpastian global masih berada pada level tinggi meski lebih rendah dibandingkan puncaknya pada 2025. IMF mencatat dinamika konflik, kebijakan perdagangan, dan volatilitas pasar keuangan sebagai faktor yang terus membayangi prospek ekonomi.
Secara regional, IMF turut memangkas proyeksi pertumbuhan ASEAN-5—yang mencakup Indonesia—menjadi 4,1% pada 2026. Penyesuaian ini menunjukkan tekanan ekonomi terjadi secara luas di kawasan Asia Tenggara.
IMF menilai dampak konflik dan kenaikan harga komoditas tidak hanya bersifat langsung, tetapi juga memicu efek lanjutan melalui ekspektasi inflasi dan kondisi keuangan global yang lebih ketat. Situasi tersebut berpotensi menekan investasi dan konsumsi di negara berkembang.
Dengan revisi ini, IMF menegaskan penurunan proyeksi pertumbuhan Indonesia mencerminkan asumsi global yang lebih menantang dibandingkan awal tahun, terutama terkait harga energi, inflasi, dan ketidakpastian geopolitik.