Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,0 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 5,1 persen.
Dalam laporan World Economic Outlook edisi April yang dikutip Selasa (14/4), IMF memperkirakan perekonomian Indonesia berada di level 5,0 persen pada 2026. Sementara pada 2027, ekonomi Indonesia diproyeksikan naik tipis menjadi 5,1 persen.
Sebelumnya, dalam laporan World Economic Outlook edisi Januari 2026, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh 5,1 persen pada 2026.
Di kawasan Asia Tenggara, Vietnam diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi. IMF memperkirakan ekonomi Vietnam tumbuh 7,1 persen pada 2026. Setelah itu disusul Indonesia dan Malaysia yang diproyeksikan tumbuh 4,7 persen.
Secara global, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen pada 2026. Proyeksi ini turun dari perkiraan sebelumnya di angka 3,4 persen.
Penasihat Ekonomi IMF, Pierre-Olivier Gourinchas, menyatakan prospek ekonomi global memburuk tajam setelah pecahnya perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran di Timur Tengah pada 28 Februari 2026.
Menurut Gourinchas, penutupan Selat Hormuz dan kerusakan serius pada fasilitas produksi penting di wilayah yang menjadi pusat pasokan hidrokarbon global dapat memicu krisis energi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menjelaskan konflik tersebut menghentikan tren pertumbuhan global yang sebelumnya stabil. Sebelum perang pecah, IMF bahkan mempertimbangkan untuk menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia karena momentum ekonomi global dinilai masih berlanjut.
Gourinchas menambahkan, besarnya dampak terhadap ekonomi global akan ditentukan oleh durasi dan skala konflik, serta waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan produksi dan distribusi energi setelah konflik berakhir.