BERITA TERKINI
IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 setelah Perang Timur Tengah

IMF Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2026 setelah Perang Timur Tengah

Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2026 setelah pecahnya perang di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi April 2026, IMF menilai konflik tersebut menjadi faktor utama yang mengganggu arah pemulihan ekonomi dunia.

IMF menyatakan, tanpa konflik, pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 seharusnya dapat lebih tinggi. Namun, eskalasi geopolitik membuat proyeksi perlu dikoreksi ke bawah. “Sekali lagi, perekonomian global terancam keluar dari jalurnya, kali ini akibat pecahnya perang di Timur Tengah pada akhir Februari 2026,” tulis IMF dalam laporannya, dikutip Rabu (15/4).

Dalam proyeksi terbaru, IMF memperkirakan ekonomi global tumbuh 3,1% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,4% pada periode 2024–2025, sekaligus berada di bawah rata-rata historis 3,7%.

Menurut IMF, pelemahan prospek ini terutama dipicu dampak konflik terhadap pasar komoditas, ekspektasi inflasi, serta kondisi keuangan global. IMF menilai perang telah membalik sebagian sentimen positif yang sebelumnya menopang ekonomi dunia, termasuk investasi teknologi dan kondisi keuangan yang longgar.

“Selama setahun terakhir, tekanan dari meningkatnya hambatan perdagangan dan ketidakpastian yang tinggi telah diimbangi oleh dorongan dari investasi terkait teknologi, kondisi keuangan yang akomodatif, termasuk melemahnya dolar AS, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter,” tulis IMF.

IMF menambahkan, tanpa perang, pertumbuhan global 2026 diperkirakan dapat direvisi naik menjadi 3,4%. Dengan demikian, konflik di Timur Tengah disebut menjadi faktor kunci yang memangkas prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini.

Meski koreksi proyeksi global tampak terbatas, IMF menegaskan dampaknya tidak merata. Negara berkembang dinilai paling terdampak, terutama negara pengimpor komoditas energi yang sudah memiliki kerentanan fiskal. Revisi pertumbuhan untuk kelompok negara berkembang mencapai 0,3 poin persentase, sementara negara maju relatif tidak mengalami perubahan signifikan.

IMF menilai beban krisis akibat konflik lebih besar dirasakan negara berkembang karena menghadapi lonjakan harga energi sekaligus ruang fiskal yang terbatas untuk merespons guncangan.

Dalam skenario yang lebih buruk, apabila harga energi terus naik dan konflik berlangsung lebih lama, pertumbuhan global dapat melambat menjadi 2,5% pada 2026, dengan inflasi meningkat hingga 5,4%. Skenario yang lebih ekstrem menunjukkan pertumbuhan global bisa jatuh ke kisaran 2% dan inflasi menembus di atas 6% pada 2027. Dalam kondisi tersebut, tekanan terhadap negara berkembang diperkirakan hampir dua kali lipat dibandingkan negara maju.

IMF juga mengingatkan risiko krisis energi besar jika konflik terus memburuk. Ketegangan geopolitik yang meningkat dinilai berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memicu lonjakan harga yang lebih tajam. “Ketegangan geopolitik dapat memburuk jauh lebih parah dari saat ini, mengubah situasi menjadi krisis energi terbesar dalam sejarah modern,” kata IMF.

Selain itu, IMF menyoroti risiko meningkatnya inflasi, tekanan pada suku bunga jangka panjang, serta memburuknya kondisi keuangan global seiring defisit fiskal dan utang publik yang membesar. Lembaga itu juga memperingatkan potensi pelemahan institusi, termasuk independensi bank sentral, yang dapat memperburuk ekspektasi inflasi di tengah lonjakan harga komoditas.

Di tengah tekanan tersebut, IMF menyebut masih ada faktor yang dapat menopang pertumbuhan dalam jangka panjang, salah satunya investasi di bidang kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini dinilai berpotensi mendorong produktivitas, meski manfaatnya bergantung pada kecepatan adopsi dan kemampuan negara mengoptimalkan penggunaannya.