BERITA TERKINI
IMF Soroti Dominasi China atas Logam Tanah Jarang dan Risiko Gangguan Rantai Pasok Global

IMF Soroti Dominasi China atas Logam Tanah Jarang dan Risiko Gangguan Rantai Pasok Global

Logam tanah jarang atau rare earth mungkin tidak setenar minyak, batu bara, atau nikel. Namun komoditas ini memegang peran penting dalam perekonomian global karena menjadi bahan kunci bagi berbagai industri strategis, mulai dari kendaraan listrik, energi terbarukan, semikonduktor, perangkat elektronik, hingga sistem pertahanan.

Salah satu penggunaan terpenting logam tanah jarang adalah pada permanent magnet, komponen yang membantu mengubah energi listrik menjadi gerakan dan sebaliknya. Secara umum, logam tanah jarang terdiri dari 17 unsur: 15 unsur lantanida serta scandium dan yttrium. Meski digunakan dalam jumlah relatif kecil, sifat kimia dan fisik unsur-unsur ini dinilai sangat penting bagi berbagai teknologi modern.

Dari sisi nilai, pasar logam tanah jarang tergolong kecil dibandingkan komoditas besar lainnya. Nilai pasar rare earth oxides pada 2024 diperkirakan sekitar US$6 miliar, sementara pasar permanent magnet sekitar US$25 miliar. Meski begitu, posisinya sebagai input bagi industri bernilai tambah tinggi membuat gangguan pasokan kecil sekalipun berpotensi memicu efek berantai yang lebih luas terhadap perekonomian.

Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2026, International Monetary Fund (IMF) mencatat meningkatnya kewaspadaan global setelah China memperketat ekspor logam tanah jarang. Pada April 2025, setelah Amerika Serikat mengenakan tarif besar kepada banyak mitra dagangnya, China memperkenalkan persyaratan lisensi ekspor untuk tujuh jenis logam tanah jarang dan magnet berbasis logam tanah jarang. Kebijakan ini disebut memicu gangguan pasokan serius bagi banyak produsen di berbagai negara.

IMF mencatat ekspor permanent magnet China sempat turun sekitar 70% secara tahunan pada Mei 2025. Penurunan ini menandakan perlambatan pasokan global yang cukup tajam, meski tidak berlangsung lama. Pada Oktober 2025, China kembali mengumumkan pengetatan aturan lisensi ekspor logam tanah jarang, sebelum sebagian kebijakan tersebut ditangguhkan pada November dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat. IMF juga menyebut bahwa pada Januari 2026 China kembali membatasi ekspor logam tanah jarang berat atau heavy rare earth elements (HREE) ke Jepang.

Kerentanan utama muncul karena ketergantungan dunia terhadap China dalam rantai pasok logam tanah jarang masih tinggi, terutama pada tahap pengolahan. Untuk kategori logam tanah jarang ringan atau light rare earth elements (LREE), pangsa produksi tambang China turun dari 97% pada 2010 menjadi 58% pada 2024. Namun dominasi China masih besar dalam pemrosesan, yakni sekitar 88% kapasitas pemisahan oksida dan 93% pemurnian logam global. Untuk HREE, dominasi China disebut mendekati monopoli, mulai dari penambangan, pemisahan, pemurnian, hingga produksi permanent magnet.

IMF menilai titik paling rawan dalam rantai pasok logam tanah jarang bukan hanya penambangan, melainkan proses separation dan refining. Tahap ini dinilai rumit, mahal, membutuhkan keahlian khusus, dan tidak dapat dibangun dengan cepat.

Dampak gangguan pasokan, menurut IMF, tidak hanya berhenti pada sektor industri tertentu, tetapi dapat menjalar ke perekonomian yang lebih luas. IMF menjelaskan logam tanah jarang digunakan di 34 dari 405 sektor ekonomi di Amerika Serikat. Sektor-sektor tersebut pada 2017 menyumbang nilai tambah sekitar US$233 miliar atau setara 0,8% PDB nominal AS. Paparan serupa juga dicatat di negara lain, seperti Prancis 0,4%, Jerman 2,5%, India 1,3%, Jepang 1,7%, dan Inggris 0,6%.

Artinya, meski nilai pasarnya tidak besar, logam tanah jarang menopang aktivitas di banyak sektor penting. Jika pasokannya terganggu, imbasnya dapat meluas ke industri otomotif, elektronik, energi terbarukan, hingga manufaktur berteknologi tinggi. IMF mencontohkan, kelangkaan permanent magnet dapat mengganggu produksi kendaraan listrik, yang kemudian berpotensi menekan biaya transportasi, biaya produksi, serta aktivitas ekonomi sektor lain yang bergantung pada rantai pasok tersebut.

Dalam simulasi IMF, jika pasokan logam tanah jarang dipangkas 80% dan ruang substitusi bagi pelaku usaha terbatas, produk domestik bruto Amerika Serikat diperkirakan bisa turun 1,5% dan Jerman sekitar 1,2%. Besarnya dampak, menurut IMF, dipengaruhi oleh keterkaitan antarsektor dalam perekonomian: ketika satu sektor terganggu, tekanan dapat menular ke sektor lain melalui rantai pasok dan jaringan produksi.

Namun IMF juga menyatakan dampak tersebut dapat jauh lebih kecil dalam jangka panjang jika produsen memiliki waktu untuk beradaptasi, mencari alternatif, atau mengubah desain produksi. Dalam skenario ketika elastisitas substitusi lebih tinggi, rata-rata penurunan PDB menjadi nyaris tidak signifikan. Tantangannya, kemampuan adaptasi seperti itu dinilai tidak mudah dicapai dalam waktu cepat, terutama bagi industri yang sangat bergantung pada jenis logam tanah jarang tertentu dan tidak memiliki pengganti yang setara.