BERITA TERKINI
IMF: Risiko Krisis Ekonomi Global Meningkat Jika Perang Iran Berlanjut hingga 2027

IMF: Risiko Krisis Ekonomi Global Meningkat Jika Perang Iran Berlanjut hingga 2027

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan dampak serius perang di Timur Tengah terhadap ekonomi global. Lembaga tersebut menilai kondisi dapat memburuk secara signifikan apabila konflik berlanjut hingga 2027.

Peringatan itu disampaikan Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, seperti dilaporkan Reuters pada Selasa, 5 Mei 2026. Menurut Georgieva, inflasi global mulai meningkat dan tekanan terhadap perekonomian semakin terasa.

Georgieva menjelaskan, skenario dasar IMF yang sebelumnya mengasumsikan konflik hanya berlangsung singkat kini dinilai tidak lagi relevan. Dalam skenario dasar tersebut, IMF sempat memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% dengan inflasi 4,4%.

Namun, ia mengatakan kondisi saat ini telah melampaui proyeksi itu dan mulai memasuki skenario yang lebih buruk. IMF memperingatkan, dampak akan jauh lebih berat apabila perang berlanjut hingga 2027 dan harga minyak mencapai sekitar 125 dolar AS per barel.

Dalam situasi tersebut, Georgieva menyebut inflasi diperkirakan terus meningkat, sementara ekspektasi inflasi berpotensi menjadi tidak terkendali. IMF sebelumnya juga telah merilis sejumlah skenario terkait dampak perang di Timur Tengah terhadap ekonomi global.

Salah satu skenario buruk memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia melambat menjadi 2,5% dengan inflasi 5,4%. Sementara skenario yang lebih parah memproyeksikan pertumbuhan hanya 2% dengan inflasi mencapai 5,8%.

Menurut IMF, situasi dapat semakin memburuk apabila terjadi krisis di Selat Hormuz, jalur penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Penutupan jalur tersebut disebut dapat memicu gangguan besar pada pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga komoditas.

Dampak perang juga dinilai merembet ke sektor lain. IMF mencatat harga pupuk berpotensi naik 30% hingga 40%, yang dapat mendorong kenaikan harga pangan global sekitar 3% sampai 6%.

IMF menilai kondisi ini serius dan memerlukan perhatian segera dari para pembuat kebijakan. Georgieva juga menyoroti masih adanya pemerintah yang menganggap krisis bersifat sementara, sehingga kebijakan yang diambil berisiko mempertahankan tingginya permintaan minyak.

Ia menilai hal tersebut dapat memperburuk ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan energi. Karena itu, Georgieva menekankan perlunya penyesuaian permintaan seiring terbatasnya pasokan agar krisis ekonomi yang lebih dalam dapat dicegah.