BERITA TERKINI
IMF Peringatkan Utang Publik Global Berpotensi Tembus 100% PDB pada 2029

IMF Peringatkan Utang Publik Global Berpotensi Tembus 100% PDB pada 2029

JAKARTA — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan utang publik global berisiko naik ke tingkat yang mengkhawatirkan. Dalam proyeksinya, rasio utang publik dapat mencapai 100% dari produk domestik bruto (PDB) global pada 2029, seiring meningkatnya tekanan fiskal di negara maju maupun berkembang.

Dalam laporan Fiscal Monitor terbaru, IMF menilai pelemahan kondisi keuangan publik terjadi secara berkelanjutan, meski ekonomi global dinilai masih tangguh. Rasio utang publik disebut meningkat tajam hingga mendekati 94% dari PDB pada 2025 dan diperkirakan terus naik dalam beberapa tahun berikutnya.

IMF mengaitkan tren tersebut dengan defisit yang berlanjut, meningkatnya biaya bunga, serta potensi munculnya guncangan geopolitik baru. Situasi ini dinilai mempersempit ruang fiskal banyak negara dan menambah tantangan dalam menjaga stabilitas anggaran.

Prospek tersebut juga dipengaruhi konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang dinilai mengganggu pasar energi dan memperketat kondisi keuangan secara global. Pemerintah di berbagai negara disebut berada dalam posisi sulit antara melindungi rumah tangga dari kenaikan harga bahan bakar dan pangan, sekaligus mempertahankan disiplin fiskal.

Tekanan paling besar dirasakan negara pengimpor energi dan negara berpendapatan rendah. Kelompok ini menghadapi lonjakan tagihan impor, sementara ruang fiskalnya terbatas untuk merespons kenaikan biaya hidup maupun gejolak harga komoditas.

Di tengah kondisi tersebut, IMF menyoroti India sebagai salah satu titik terang relatif. Bersama Meksiko dan Turki, India dinilai berhasil memperbaiki posisi fiskalnya melalui pengendalian pengeluaran primer.

IMF juga mencatat lintasan utang India diproyeksikan stabil atau bahkan menurun seiring waktu, didukung pertumbuhan PDB nominal yang kuat dan upaya konsolidasi fiskal berkelanjutan. Namun, rasio utang terhadap PDB India masih berada di atas 84% dan tetap rentan terhadap risiko global.