Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa perang di Timur Tengah berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global, sekaligus mendorong inflasi dan meningkatkan risiko resesi. Peringatan itu disampaikan seiring konflik yang melibatkan Iran dinilai mengganggu stabilitas ekonomi dunia.
IMF menilai, sebelumnya ekonomi global relatif mampu bertahan menghadapi guncangan besar, termasuk pandemi serta perang antara Rusia dan Ukraina. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah memunculkan tekanan baru, terutama melalui ketidakpastian yang meningkat dan gejolak harga energi.
Dalam laporan World Economic Outlook, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1% pada tahun ini. Kepala ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyatakan prospek ekonomi global memburuk akibat meningkatnya ketidakpastian dan volatilitas harga energi.
Salah satu sumber tekanan utama berasal dari gangguan pasokan energi, terutama di kawasan Selat Hormuz. Situasi tersebut mendorong lonjakan harga minyak hingga melampaui 100 dolar AS per barel, disertai kenaikan tajam harga gas dan pupuk.
Kenaikan harga energi dan input produksi itu berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan daya beli masyarakat di berbagai negara. IMF juga memaparkan sejumlah skenario dampak ekonomi yang dapat terjadi apabila konflik berlanjut.
Dalam skenario terburuk, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan dapat turun hingga 2%. Selain itu, inflasi global diproyeksikan bisa mencapai 6%.
IMF memperkirakan dampak paling besar akan dirasakan negara-negara berkembang. Secara keseluruhan, ekonomi global disebut menghadapi tekanan yang kian berat selama konflik belum mereda.