BERITA TERKINI
IMF Peringatkan Dampak Jangka Panjang Perang terhadap Ekonomi Global

IMF Peringatkan Dampak Jangka Panjang Perang terhadap Ekonomi Global

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan keprihatinan atas konsekuensi jangka panjang perang terhadap ekonomi global. Menjelang Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia pekan depan, ia memperingatkan bahwa bahkan dalam skenario terbaik pun pemulihan tidak akan berjalan mulus dan sepenuhnya kembali seperti semula, meski Amerika Serikat dan Iran baru-baru ini mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu.

Dalam pidatonya, Georgieva menggambarkan prospek yang suram terkait dampak ekonomi perang. Ia menyoroti tantangan mulai dari penghancuran infrastruktur penting di Timur Tengah hingga gangguan pasokan di wilayah lain. Menurutnya, kondisi tersebut membuat ekonomi global berpotensi tidak mencapai “posisi yang jauh lebih baik” seperti yang sebelumnya diperkirakan, terutama karena “kesehatan” ekonomi dalam beberapa bulan terakhir disebut didorong oleh belanja besar untuk Kecerdasan Buatan (AI).

Georgieva juga menyinggung kekurangan bahan bakar yang parah di kawasan Asia-Pasifik akibat penutupan kompleks gas alam cair (LNG) terbesar di dunia di Qatar. Ia mencatat bahwa sekitar 80% LNG dari fasilitas tersebut diekspor ke negara dan wilayah Asia-Pasifik sebelum serangan Iran pada pertengahan Maret. Ia memperkirakan pemulihan kompleks LNG Qatar hingga kembali ke kapasitas penuh akan memakan waktu sekitar tiga hingga lima tahun.

Menurut Georgieva, dampak berantai perang tidak hanya terkait turunnya pasokan energi dan bahan industri penting, tetapi juga meningkatnya risiko kemiskinan. Ia menyebut ada potensi tambahan 45 juta orang terjerumus ke dalam kemiskinan. Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi akan melambat meskipun perdamaian yang baru diumumkan dapat dipertahankan.

IMF, kata Georgieva, diperkirakan akan menurunkan proyeksi ekonomi global dalam laporan yang akan dirilis pekan depan, meski ia tidak menyebutkan angka rinci. Pada Januari, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 3,3%, lebih tinggi dibandingkan 3,1% dalam laporan kuartal keempat 2025, dengan alasan investasi AI yang kuat dan meredanya ketegangan perdagangan.

Konflik di Timur Tengah juga disebut telah mendorong harga minyak melampaui 100 dolar AS per barel dan harga bensin di Amerika Serikat di atas 4 dolar AS per galon. Setelah guncangan inflasi pascapandemi COVID-19, situasi ini dinilai berisiko memicu gelombang kenaikan harga baru, suku bunga yang lebih tinggi, serta pertumbuhan yang lebih lambat.

Georgieva memperkirakan kenaikan biaya input utama akan merembet ke berbagai barang konsumsi dan meningkatkan inflasi. Jika ekspektasi inflasi berisiko lepas kendali dan memicu spiral inflasi yang mahal, bank sentral dapat terdorong untuk bertindak lebih agresif melalui kenaikan suku bunga.

Di sisi lain, Georgieva menegaskan guncangan harga minyak menyoroti pentingnya pemikiran yang lebih luas mengenai keamanan energi. Ia mengatakan bahwa ketika dunia merespons, upaya kolektif dalam efisiensi energi dan diversifikasi sumber energi perlu tetap dipertahankan.

Sesuai rencana, IMF akan merilis prakiraan ekonomi untuk beberapa skenario terkait konsekuensi konflik di Timur Tengah saat menerbitkan laporan proyeksinya pada 14 April.