Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperingatkan bahwa ekonomi global berpotensi menghadapi kondisi yang jauh lebih buruk apabila perang di Asia Barat berlanjut hingga 2027. Menurutnya, proyeksi IMF sebelumnya terkait dampak konflik tersebut perlu ditinjau ulang.
Dalam pernyataannya pada Senin (4/5), Georgieva mengatakan bahwa perkiraan IMF yang semula menilai perang AS dan Israel terhadap Iran akan memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta kenaikan harga yang masih moderat, tidak lagi dapat dianggap berlaku.
Ia menegaskan, jika konflik terus berlangsung hingga tahun depan dan harga minyak mencapai 125 dolar AS per barel, dunia perlu bersiap menghadapi konsekuensi ekonomi yang lebih berat. “Jika perang berlanjut hingga tahun depan (2027) dan harga minyak mencapai 125 dolar AS per barel, kita harus mengantisipasi hasil yang jauh lebih buruk bagi ekonomi dunia,” kata Georgieva, sebagaimana dikutip laporan yang dilansir pada 5 Mei 2026.
Sementara itu, surat kabar Spanyol El País menilai sejumlah faktor telah meningkatkan risiko tekanan ekonomi global, termasuk minimnya kemajuan dalam negosiasi antara AS dan Iran, penutupan Selat Hormuz yang terus berlanjut, serta kebijakan Washington yang disebutnya sebagai “kelanjutan program bunuh diri.”
Menurut laporan tersebut, cadangan global disebut semakin menipis, sementara dunia dinilai perlahan kehilangan salah satu jalur transportasi vital bagi minyak dan gas. El País juga menyebut harga minyak telah mencapai rekor tertinggi sejak 2022, dan risiko resesi global—terutama di Eropa—disebut meningkat.
Peringatan IMF ini menandai perubahan nada dibanding sikap sebelumnya yang dinilai lebih tenang. Georgieva menekankan bahwa apabila konflik tidak berhenti hingga tahun depan, lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan signifikan terhadap perekonomian dunia.