Dana Moneter Internasional (IMF) menilai dampak ekonomi dari perang antara Amerika Serikat dan Iran tidak lagi bersifat sementara. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut guncangan konflik tersebut telah “baked into the economy”, atau tertanam dalam struktur ekonomi global.
Pernyataan itu disampaikan menjelang pertemuan musim semi IMF–World Bank di Washington pada April 2026, ketika risiko geopolitik kembali menjadi perhatian utama pasar dan pembuat kebijakan. IMF menyoroti bahwa konflik di kawasan strategis energi dunia telah mengganggu arus pasokan minyak dan gas, memicu lonjakan harga komoditas, serta memperberat tekanan biaya hidup di banyak negara.
Menurut catatan IMF, sekitar 13% pasokan minyak global dan 20% pasokan gas alam cair (LNG) terdampak gangguan akibat eskalasi konflik di sekitar jalur distribusi utama energi dunia. Wilayah itu mencakup rute vital seperti Strait of Hormuz, yang selama ini menjadi jalur transit utama ekspor minyak Timur Tengah ke pasar global.
Gangguan pasokan tersebut mendorong harga minyak mentah Brent sempat menembus US$100 per barel sebelum bergerak fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir. Kenaikan harga minyak kemudian merambat ke harga bahan bakar konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata dilaporkan mendekati US$4 per galon pada akhir Maret 2026.
IMF menilai kenaikan biaya energi memperbesar tekanan pada berbagai sektor, mulai dari transportasi, logistik, manufaktur, hingga pangan. Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi semata, karena lonjakan harga turut memicu gelombang inflasi lanjutan di berbagai negara, terutama negara pengimpor energi.
Dalam penilaian IMF, peningkatan harga pengiriman barang dan biaya produksi membuat konsumen menghadapi tekanan harga kebutuhan pokok. Negara berkembang dengan ruang fiskal terbatas disebut paling rentan terhadap efek berantai tersebut. IMF juga memperingatkan bahwa pemulihan harga energi ke level sebelum konflik tidak akan terjadi dalam waktu singkat, mengingat kerusakan infrastruktur dan ketidakpastian geopolitik membuat pasar energi cenderung bertahan dalam fase volatilitas tinggi.
Dampak konflik ini juga mendorong IMF dan sejumlah lembaga internasional meninjau ulang proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026. Negara pengimpor energi diperkirakan mengalami perlambatan lebih tajam karena lonjakan biaya produksi dan tekanan inflasi. Dalam skenario tertentu, IMF memperkirakan kebutuhan pembiayaan darurat dapat meningkat signifikan, dengan potensi permintaan bantuan mencapai US$20 miliar hingga US$50 miliar bagi negara-negara yang terdampak paling berat.
IMF menekankan bahwa guncangan ini bukan sekadar gejolak harga jangka pendek, melainkan perubahan struktural yang memengaruhi ekspektasi inflasi, arah kebijakan moneter, serta strategi investasi global. Istilah “tertanam” yang digunakan IMF mengisyaratkan bahwa dampak perang telah masuk ke dalam mekanisme dasar ekonomi dunia.
Sejumlah indikator yang dikemukakan dalam penilaian tersebut mencerminkan kondisi itu, antara lain harga energi yang tetap tinggi meski terjadi jeda ketegangan, tekanan lanjutan pada inflasi inti di sejumlah negara, serta dilema bank sentral antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan.
IMF menilai negara berkembang yang bergantung pada impor energi dan memiliki cadangan devisa terbatas akan merasakan dampak paling berat. Tekanan inflasi berpotensi melemahkan daya beli masyarakat dan meningkatkan risiko sosial-ekonomi. Sementara itu, negara eksportir energi dapat memperoleh keuntungan jangka pendek dari kenaikan harga, namun tetap menghadapi risiko ketidakstabilan pasar global.
Dengan gangguan pasokan energi, lonjakan harga minyak hingga di atas US$100 per barel, serta tekanan inflasi yang meluas, IMF memandang ekonomi dunia kembali memasuki fase ketidakpastian tinggi. Dalam pandangan lembaga tersebut, perang AS–Iran telah menciptakan babak baru risiko ekonomi global, dan dampaknya diperkirakan bertahan dalam jangka menengah meski ketegangan mereda.