Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan pemerintah di berbagai negara agar tidak melakukan belanja berlebihan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Peringatan ini disampaikan seiring meningkatnya risiko resesi apabila perang terus berlanjut, terutama jika memicu tekanan lebih besar pada harga energi.
Chief Economist IMF Pierre-Olivier Gourinchas mengatakan penutupan Selat Hormuz serta kerusakan serius pada fasilitas energi penting di kawasan Timur Tengah dapat meningkatkan prospek terjadinya krisis energi besar, bila solusi jangka panjang tidak segera ditemukan. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers IMF-World Bank Springs Meeting, dikutip Senin (20/4/2026).
Menurut IMF, harga minyak dan gas telah meningkat tajam. Kenaikan juga terjadi pada harga solar dan bahan bakar jet, pupuk, aluminium, serta helium. Gourinchas menjelaskan dampak keseluruhan dari lonjakan tersebut akan bergantung pada tiga saluran utama.
Pertama, kenaikan harga komoditas dinilai sebagai guncangan pasokan negatif yang umumnya mendorong harga dan biaya naik, mengganggu rantai pasokan, serta mengikis daya beli. Kedua, efek ini dapat menguat ketika perusahaan dan pekerja berupaya menutup kerugian, sehingga meningkatkan risiko terjadinya spiral upah-harga, terutama di negara yang ekspektasi inflasinya tidak terkendali dengan baik.
Ketiga, kondisi keuangan berpotensi mengencang, ditandai dengan valuasi aset yang lebih rendah, premi risiko yang lebih tinggi, pelarian modal, serta penguatan dolar AS, yang pada akhirnya menekan permintaan.
Dalam perkiraan referensinya, IMF mengasumsikan konflik berlangsung singkat dan kenaikan harga energi moderat sebesar 19% pada 2026. Meski demikian, IMF menilai sebagian kerusakan tetap tidak terhindarkan. Dalam skenario ini, pertumbuhan global diperkirakan turun menjadi 3,1% pada tahun ini, lebih rendah dari proyeksi Januari, sementara inflasi utama naik menjadi 4,4%.
IMF juga menyiapkan skenario buruk yang mengasumsikan gangguan lebih lanjut sehingga harga energi dan ekspektasi inflasi meningkat, disertai kondisi keuangan yang lebih ketat sepanjang tahun. Dalam skenario tersebut, pertumbuhan global diperkirakan turun menjadi 2,5% dan inflasi naik menjadi 5,4%.
Sementara itu, skenario parah mengasumsikan gangguan pasokan energi berlanjut hingga tahun depan dan memicu ketidakstabilan makro yang lebih besar. IMF memperkirakan pertumbuhan global turun menjadi 2% pada tahun ini dan tahun depan, sedangkan inflasi melampaui 6%. Gourinchas menilai risiko penurunan pertumbuhan global sangat tinggi dalam skenario ini.
IMF menekankan bahwa pertumbuhan global di bawah 2%—apabila perang berlanjut dan harga minyak meningkat—dapat berarti resesi besar yang melanda dunia. IMF mencatat dunia baru mengalami empat kali resesi sejak 1980-an.
Terkait langkah kebijakan, Gourinchas mengingatkan bahwa dengan meningkatnya lintasan utang publik, ruang fiskal kini jauh lebih sempit dibanding sebelumnya. Ia menilai kebijakan seperti batasan harga, subsidi, dan intervensi sering menjadi pilihan populer, namun berisiko mendistorsi harga dan kerap dirancang kurang tepat karena dapat memicu ketergantungan serta berbiaya mahal.
Menurutnya, sebagian besar negara tidak lagi memiliki keleluasaan untuk melakukan langkah-langkah tersebut secara luas. Jika dukungan bagi kelompok paling rentan diperlukan, IMF mendorong kebijakan yang ditargetkan dan bersifat sementara, selaras dengan rencana jangka menengah untuk membangun kembali penyangga fiskal serta menghindari stimulus permintaan ketika inflasi meningkat.
Dalam skenario terburuk, IMF menyatakan kebijakan moneter dan fiskal perlu siap beralih untuk mendukung perekonomian dan melindungi sistem keuangan, disertai kebijakan keuangan dan likuiditas yang tepat. Namun, Gourinchas mengakui bank sentral memiliki keterbatasan dalam memengaruhi harga energi yang dapat mendorong inflasi. Pasar, menurutnya, juga akan memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga.
Meski demikian, IMF meminta bank sentral tidak terburu-buru menaikkan suku bunga selama ekspektasi inflasi masih terkendali. Bank sentral dinilai dapat menunggu dan mengamati, namun tetap perlu memperhatikan risiko serta mengomunikasikan dengan jelas kesiapan untuk bertindak tegas demi menjaga stabilitas harga.