BERITA TERKINI
IMF: Harga Barang Global Sulit Kembali Normal Meski Konflik AS–Israel dan Iran Mereda

IMF: Harga Barang Global Sulit Kembali Normal Meski Konflik AS–Israel dan Iran Mereda

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan harga barang-barang di dunia akan membutuhkan waktu untuk kembali ke level sebelum perang AS–Israel dengan Iran. Menurut dia, bahkan jika gencatan senjata berlangsung, hal itu tidak serta-merta menurunkan harga barang global.

“Ini akan memakan waktu, ya, dan akan lebih lama lagi bagi wilayah yang mengalami tingkat gangguan lebih besar,” kata Georgieva, seperti dikutip dari laman theedgemalaysia, Senin (13/4/2026).

Georgieva juga mengingatkan bahwa dampak perang tidak dirasakan merata oleh semua negara. IMF, kata dia, akan segera merilis proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebagai dampak dari perang di Iran.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melemah. “Kami akan melakukan penurunan (proyeksi), dan besarnya akan bergantung pada dua hal: durasi konflik dan seberapa cepat kondisi dapat kembali ke tingkat produksi sebelum perang,” ujar Georgieva.

Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan AS akan memulai blokade laut penuh terhadap Selat Hormuz. Ia juga mengancam akan membalas jika Iran melakukan perlawanan.

Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah pembicaraan langsung antara AS dan Iran di Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan. Kegagalan tersebut menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata yang diumumkan pekan sebelumnya, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai peluang berakhirnya perang secara permanen.

Dari pihak Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada ancaman setelah Trump memerintahkan blokade Selat Hormuz. Ghalibaf menyampaikan pernyataan itu kepada wartawan setelah kembali ke Teheran dari Islamabad, Pakistan, usai memimpin perundingan damai dengan AS yang berakhir tanpa kesepakatan, sebagaimana dilaporkan sejumlah kantor berita Iran pada Minggu (12/4/2026).

“Jika mereka berperang, kami akan berperang. Jika mereka datang dengan logika, kami akan merespons dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun. Biarkan mereka menguji tekad kami sekali lagi agar kami dapat memberi mereka pelajaran yang lebih besar,” ujar Ghalibaf seperti dikutip dari Al Arabiya.

Sementara itu, Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani menyatakan Angkatan Laut Iran terus memantau seluruh pergerakan militer AS di kawasan. Menurutnya, ancaman blokade laut tersebut tidak serius. “Ancaman presiden AS untuk memblokade Iran di laut sangat konyol dan menggelikan,” katanya seperti dikutip televisi pemerintah Iran.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga memperingatkan bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dua minggu dengan AS dan akan ditindak secara keras dan tegas. Dalam pernyataan resmi yang dilaporkan media pemerintah, IRGC menegaskan Selat Hormuz berada di bawah kendali dan “manajemen cerdas” Angkatan Laut Iran, serta tetap dibuka bagi kapal non-militer yang mematuhi aturan tertentu.

Trump mengatakan ia memerintahkan Angkatan Laut AS memblokade Selat Hormuz karena Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya. “Jadi, begitulah adanya, pertemuan berjalan baik, sebagian besar poin disepakati, tetapi satu poin yang paling penting, NUKLIR, tidak,” ujar Trump merujuk pada perundingan di Pakistan. Ia menambahkan, “Mulai saat ini, Angkatan Laut AS, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.”