BERITA TERKINI
IMF: Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi dan Risiko Guncangan Ekonomi Global

IMF: Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi dan Risiko Guncangan Ekonomi Global

JAKARTA — Dana Moneter Internasional (IMF) menilai eskalasi konflik di Timur Tengah telah menghentikan optimisme hati-hati yang sempat menyertai awal 2026, menyusul lonjakan harga energi global yang memunculkan kembali risiko krisis ekonomi yang lebih luas.

Dalam laporan terbaru World Economic Outlook (WEO), Direktur Riset IMF Pierre-Olivier Gourinchas menyatakan bahwa sebelum konflik memanas, ekonomi global sebenarnya menunjukkan ketahanan. Menurut dia, sektor swasta mampu beradaptasi menghadapi gangguan perdagangan dan ketidakpastian kebijakan, ditopang kondisi keuangan yang relatif kondusif serta perkembangan teknologi.

“Terlepas dari gangguan perdagangan besar dan ketidakpastian kebijakan, tahun lalu berakhir dengan catatan yang menggembirakan,” ujar Gourinchas.

Namun, situasi berubah cepat setelah penutupan Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia—serta kerusakan fasilitas energi di Timur Tengah memicu lonjakan tajam harga komoditas energi. Kenaikan terjadi pada minyak dan gas, lalu merembet ke harga diesel, bahan bakar pesawat, pupuk, aluminium, hingga helium.

IMF menekankan bahwa guncangan tersebut tidak berhenti sebagai fenomena pasar energi semata, melainkan berpotensi menekan perekonomian global melalui sejumlah mekanisme yang saling terkait.

IMF mengidentifikasi tiga jalur utama bagaimana krisis energi akibat perang dapat mengguncang ekonomi dunia. Pertama, kenaikan harga energi dipandang sebagai negative supply shock atau guncangan dari sisi penawaran. Dalam kondisi ini, biaya produksi meningkat secara luas karena energi merupakan input utama di hampir semua sektor.

“Kenaikan harga komoditas adalah contoh klasik guncangan pasokan negatif: menaikkan harga dan biaya, mengganggu rantai pasokan, dan mengikis daya beli,” kata Gourinchas.

Dampaknya dapat langsung terasa pada rantai pasok global, antara lain melalui meningkatnya biaya logistik dan naiknya harga barang produksi yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat. IMF juga menyoroti kenaikan harga pupuk yang berpotensi mendorong inflasi pangan, terutama di negara berkembang yang bergantung pada sektor pertanian.

Kedua, efek guncangan dapat membesar akibat respons pelaku ekonomi. Perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya cenderung menaikkan harga jual, sementara pekerja menuntut kenaikan upah untuk menjaga daya beli. Jika berlanjut, kondisi ini berisiko memicu wage-price spiral, yakni lingkaran kenaikan upah dan harga yang saling memperkuat.

IMF mengingatkan risiko tersebut lebih tinggi di negara-negara yang ekspektasi inflasinya belum sepenuhnya stabil.

Ketiga, krisis energi dapat memicu pengetatan kondisi keuangan global. Ketidakpastian ekonomi mendorong investor mencari aset yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang pada gilirannya memperkuat dolar AS.

Penguatan dolar AS dinilai berdampak ganda bagi negara berkembang. Selain meningkatkan tekanan inflasi melalui depresiasi mata uang lokal, beban utang dalam denominasi dolar juga menjadi lebih berat.