BERITA TERKINI
IMF dan Bank Dunia Siapkan Pembiayaan USD150 Miliar, Peringatkan Negara Tak Menimbun Minyak di Tengah Krisis Timur Tengah

IMF dan Bank Dunia Siapkan Pembiayaan USD150 Miliar, Peringatkan Negara Tak Menimbun Minyak di Tengah Krisis Timur Tengah

Para pemimpin keuangan global berkumpul di Washington DC, Amerika Serikat, dalam rangkaian pertemuan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Agenda utama pertemuan itu adalah mencari cara meredam guncangan ekonomi yang dipicu konflik di Timur Tengah, terutama dampaknya terhadap harga dan pasokan energi.

Dalam pertemuan tersebut, IMF dan Bank Dunia menjanjikan pembiayaan baru hingga total gabungan USD150 miliar bagi negara-negara berkembang yang paling terdampak lonjakan harga energi. Keduanya juga menandai keterlibatan kembali dengan pemerintah sementara Venezuela setelah jeda tujuh tahun.

IMF dan Bank Dunia turut memperingatkan negara-negara agar tidak menimbun minyak serta tidak berlebihan menerapkan subsidi harga bahan bakar yang dinilai mahal dan tidak tepat sasaran. Namun, di tengah dinamika konflik, ruang gerak lembaga-lembaga tersebut dinilai terbatas karena perkembangan utama berada pada keputusan dan respons para pihak yang terlibat langsung.

Sejumlah peserta pertemuan sempat bergeser dari pesimisme ke optimisme sementara, seiring harapan bahwa Iran akan membuka kembali Selat Hormuz sehingga aliran minyak, gas, pupuk, dan komoditas lain dapat kembali lancar. Optimisme itu memudar pada Sabtu (18/4/2026) setelah terjadi serangan baru terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Ketua ekonomi internasional di Atlantic Council, Josh Lipsky, menilai keputusan paling menentukan bagi ekonomi global tidak terjadi di forum Washington. Ia mengatakan perkembangan terpenting berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga dunia hanya bisa menunggu arah situasi.

Di tengah pasar saham yang menguat dan harga minyak berjangka yang turun tajam pada Jumat, Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed Al-Jadaan menyatakan ia belum nyaman memprediksi prospek yang lebih baik sebelum kapal tanker bisa bergerak bebas melalui selat tersebut dengan asuransi yang wajar dan harga energi yang menurun. Menurutnya, kondisi perairan yang kembali terbuka jelas akan menjadi pemicu perubahan skenario.

IMF sendiri merilis sedikit penurunan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1% dari skenario paling optimistis yang disusun. Namun IMF menyatakan proyeksi itu segera menjadi usang dan perekonomian global mengarah pada skenario pertumbuhan yang lebih buruk, yakni 2,5%.

Laporan Prospek Ekonomi Dunia terbaru IMF juga memperingatkan bahwa perang yang berkepanjangan dapat mendorong ekonomi global ke dalam resesi.

Situasi ini muncul setelah ekonomi global baru saja pulih dari guncangan tahun lalu akibat gelombang tarif tinggi yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap mitra dagang global. Dalam pertemuan tahun ini, pembahasan ketegangan perdagangan disebut lebih mereda, demikian pula perang Rusia di Ukraina, meski para menteri keuangan G7 menyatakan komitmen untuk terus menekan Rusia.

Lipsky menilai rangkaian guncangan sejak pandemi Covid-19 pada 2020 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 telah mengajarkan banyak negara bahwa Amerika Serikat bukan lagi “jenderal” tatanan internasional dan tidak selalu menyediakan solusi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Jumat meluncurkan inisiatif yang menyerukan negara-negara G20, IMF, dan Bank Dunia mengambil langkah terkoordinasi untuk memastikan akses pupuk yang memadai di tengah gangguan pasokan dari negara-negara Teluk. Namun, tujuh minggu setelah perang dimulai, upaya tersebut dinilai tidak banyak membantu mengurangi kelangkaan dan tingginya harga pupuk bagi petani yang sedang memasuki musim tanam di Belahan Bumi Utara.

Kepala ekonom Bank Pembangunan Afrika, Kevin Chika Urama, mengatakan krisis Timur Tengah memberi dorongan baru bagi negara-negara Afrika untuk memperdalam perdagangan dan integrasi ekonomi regional, mencari sumber energi alternatif, memperluas basis pajak domestik, serta memanfaatkan cadangan gas alam yang besar. Ia menyebut ketegangan geopolitik sebagai “normal baru” dan ketidakpastian kebijakan kini menjadi kepastian.

Di sisi lain, para menteri keuangan, bank sentral, dan pejabat lain menyampaikan frustrasi karena kembali terseret ke bencana ekonomi baru. Seorang pejabat keuangan senior yang hadir mengatakan, di balik pintu tertutup, para pejabat—terutama dari Eropa—menyampaikan pesan agar Washington mengambil tindakan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure menegaskan bahwa simpul konflik berada di Selat Hormuz dan perlu dibuka kembali, tetapi “bukan dengan harga berapa pun”. Ia menambahkan, guncangan beruntun termasuk perang ini telah mengacaukan perencanaan negara-negara berkembang sehingga mereka nyaris tidak memiliki waktu untuk bernapas.