BERITA TERKINI
IMF Apresiasi Disiplin Fiskal Indonesia, Otoritas Klaim Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga

IMF Apresiasi Disiplin Fiskal Indonesia, Otoritas Klaim Stabilitas Ekonomi Tetap Terjaga

Dinamika ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir ditandai ketidakpastian, mulai dari perubahan kebijakan moneter di negara maju hingga ketegangan geopolitik yang memengaruhi rantai pasok. Di tengah tekanan tersebut, pemerintah menilai perekonomian Indonesia tetap stabil melalui kombinasi kebijakan yang terukur dan disiplin fiskal.

Pengakuan terhadap kinerja ekonomi Indonesia disampaikan dalam rangkaian IMF Spring Meetings di Washington D.C. pada pertengahan April 2026. Managing Director IMF Kristalina Georgieva mengapresiasi konsistensi Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan defisit anggaran di bawah tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah memandang capaian ini sebagai sinyal kredibilitas pengelolaan keuangan negara di tengah risiko eksternal.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan kondisi ekonomi Indonesia berada pada jalur yang tepat dan terkelola dengan baik. Ia menekankan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dilakukan seiring dorongan pertumbuhan. Menurutnya, permintaan domestik tetap kuat sehingga pertumbuhan dinilai solid, dengan daya beli masyarakat disebut terjaga melalui kebijakan perlindungan ekonomi serta bantalan fiskal yang diarahkan secara tepat sasaran.

Bank Indonesia juga menyoroti pentingnya sinergi kebijakan moneter dan fiskal. Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Anton Pitono menjelaskan harmonisasi tersebut mencakup realokasi belanja negara ke sektor produktif agar anggaran memberi dampak pengganda bagi perekonomian sekaligus menjaga beban utang tetap dalam batas yang aman.

Dalam menghadapi tekanan global, otoritas ekonomi disebut mengandalkan bauran kebijakan yang terintegrasi. Perry menyebut respons kebijakan bersifat forward-looking, dengan kebijakan moneter diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan daya tarik aset domestik. Pada saat yang sama, kebijakan makroprudensial disebut tetap pro-pertumbuhan agar perbankan memiliki ruang menyalurkan kredit ke sektor usaha.

Selain itu, percepatan digitalisasi sistem pembayaran turut menjadi perhatian. Pemerintah menilai langkah ini bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan strategi untuk memperluas inklusi ekonomi dan meningkatkan efisiensi transaksi, sehingga aktivitas ekonomi dapat berlangsung lebih cepat dan berbiaya lebih rendah.

Pemerintah juga menekankan agenda jangka panjang melalui transformasi struktural, termasuk program hilirisasi industri dan pengembangan sektor berbasis teknologi tinggi. Orientasi ekspor diarahkan dari bahan mentah menuju produk bernilai tambah, dengan tujuan memperkuat fondasi ekonomi agar tidak mudah terpengaruh fluktuasi harga komoditas global.

Anton menambahkan, pengelolaan nilai tukar yang fleksibel namun terukur dinilai memberi ruang bagi pelaku usaha, baik eksportir maupun importir. Bank Indonesia juga menyatakan terus menjaga likuiditas perbankan agar pembiayaan bagi dunia usaha tetap tersedia.

Secara keseluruhan, pemerintah menilai apresiasi dari IMF dan perhatian investor global menjadi penegasan atas upaya menjaga stabilitas di tengah tekanan global. Stabilitas tersebut disebut sebagai modal untuk melanjutkan agenda pembangunan dan menjaga momentum pertumbuhan berkelanjutan.