BERITA TERKINI
IHSG Menguat Tipis di Awal Pekan, Investor Pantau Data Ekonomi dan Perkembangan Geopolitik

IHSG Menguat Tipis di Awal Pekan, Investor Pantau Data Ekonomi dan Perkembangan Geopolitik

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan awal pekan dengan penguatan terbatas di tengah sikap hati-hati investor yang masih mencermati berbagai sentimen global dan domestik.

Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) naik 32,12 poin atau 0,46 persen ke level 6.988,92. Hingga penutupan sesi siang, indeks masih berada di zona hijau di posisi 6.988,52 atau naik 0,45 persen.

Meski menguat, pelaku pasar cenderung mengambil posisi wait and see sambil memantau dinamika ekonomi global serta rilis data penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar.

Dari faktor eksternal, perhatian investor tertuju pada perkembangan geopolitik, terutama peluang lanjutan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat berdampak pada stabilitas energi global. Pasar juga menanti rilis sejumlah indikator ekonomi utama Amerika Serikat yang kerap menjadi acuan arah kebijakan moneter global.

“Dari data ekonomi, investor akan mencermati data tenaga kerja AS dan data sektor jasa ISM (Institute for Supply Management),” kata Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Sebelumnya, harga minyak dunia sempat melemah setelah Iran mengajukan proposal perdamaian baru kepada Amerika Serikat melalui Pakistan. Namun, respons Presiden AS Donald Trump disebut menunjukkan ketidakpuasan terhadap usulan tersebut.

Situasi turut dipengaruhi oleh batas waktu 60 hari yang dihadapi Trump berdasarkan War Powers Resolution terkait kebijakan militer dalam konflik Iran. Pemerintah Amerika Serikat menilai gencatan senjata sejak 7 April 2026 telah mengakhiri konflik terbuka, sehingga tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk langkah lanjutan.

Dari dalam negeri, pasar juga mencermati agenda rilis data ekonomi strategis sepanjang pekan ini yang berpotensi memicu volatilitas. Data yang dinanti mencakup indeks manufaktur PMI, neraca perdagangan, serta inflasi yang dijadwalkan rilis pada 4 Mei 2026.

Selanjutnya, pelaku pasar menunggu pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 pada 5 Mei, disusul data cadangan devisa, indeks harga properti, dan penjualan kendaraan pada 8 Mei 2026.

Di sisi fiskal, realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 hingga akhir Maret mencatat defisit Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di level 0,43 persen terhadap PDB.

Pelebaran defisit terjadi seiring lonjakan belanja negara sebesar 31,4 persen menjadi Rp815 triliun. Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp574,9 triliun atau 18,2 persen dari target tahunan.

Kondisi fiskal menjadi perhatian investor karena dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dalam jangka menengah. “Investor akan mencermati perkembangan realisasi APBN 2026 ini di tengah kekhawatiran akan disiplin fiskal dan dampaknya terhadap ekonomi,” ujar Ratna.

Secara teknikal, IHSG disebut berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu menembus dan bertahan di atas level psikologis 7.000. Jika skenario tersebut tercapai, indeks diperkirakan dapat bergerak pada rentang 7.020 hingga 7.150.