BERITA TERKINI
IHSG Menguat, Rupiah Melemah; Pasar Menanti Sinyal The Fed dan Pertemuan Trump-Xi

IHSG Menguat, Rupiah Melemah; Pasar Menanti Sinyal The Fed dan Pertemuan Trump-Xi

Jakarta — Pergerakan pasar keuangan Indonesia kembali tidak searah pada Kamis (30/10/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah. Di sisi global, tekanan juga terlihat setelah Wall Street bergerak melemah, di tengah perhatian pelaku pasar pada arah kebijakan moneter AS dan dinamika hubungan AS-China.

IHSG ditutup naik 0,22% ke level 8.184,06. Penguatan ini menjadi kenaikan dua hari beruntun, meski pergerakan intraday sempat menyentuh level psikologis 8.200 sebelum kembali turun ke area 8.100 menjelang penutupan. Musim rilis kinerja keuangan emiten disebut menjadi salah satu pendorong bagi pasar saham.

Nilai transaksi tercatat Rp 21,81 triliun, dengan volume 36,17 miliar saham dan frekuensi 2,28 juta transaksi. Kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp 14.957 triliun.

Berdasarkan data Refinitiv, sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 2,31%. Sektor konsumer non primer naik 1,89% dan sektor finansial menguat 0,47%.

Dari sisi saham, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tercatat menjadi pendorong utama IHSG dengan kontribusi 19,25 poin indeks. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyusul dengan kontribusi 13,18 poin indeks. Sementara itu, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) naik 7,14% ke Rp 60 per saham dan menyumbang 8,61 poin indeks.

Meski menguat, volatilitas IHSG dinilai masih tinggi. Pada perdagangan pagi, indeks sempat dibuka naik 0,12%, berbalik ke zona merah, lalu kembali menguat hingga penutupan.

Di kawasan Asia-Pasifik, pasar bergerak bervariasi setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan pemangkasan suku bunga pada Desember belum menjadi “kesimpulan pasti”. The Fed diketahui memangkas suku bunga acuan 25 basis poin sesuai ekspektasi, sehingga kisaran suku bunga menjadi 3,75%–4%.

Pelaku pasar juga mencermati pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, yang disebut sebagai pertemuan tatap muka pertama keduanya pada masa jabatan kedua Trump.

Selain itu, perhatian mengarah ke Korea Selatan setelah penasihat kebijakan utama Seoul, Kim Yong-beom, dilaporkan merilis rincian kesepakatan dagang dengan Washington. Berdasarkan laporan media lokal, Korea Selatan akan menanamkan investasi sebesar US$200 miliar di AS dengan batas tahunan US$20 miliar. Sisa dari komitmen total senilai US$350 miliar yang diumumkan awal tahun ini disebut akan dialokasikan untuk kerja sama di sektor perkapalan.

Di pasar valuta asing, rupiah pada Kamis (30/10/2025) melemah 0,15% ke posisi Rp16.635/US$1. Level ini menjadi penutupan terlemah rupiah sepanjang Oktober 2025.

Pelemahan rupiah terjadi setelah rilis hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed pada dini hari waktu Indonesia. Meski pemangkasan suku bunga 25 basis poin secara teori dapat menekan dolar AS, dolar justru menguat di pasar global setelah pernyataan Powell. Ia menegaskan peluang pemangkasan lanjutan pada Desember semakin kecil dan meminta pasar tidak berasumsi pelonggaran moneter akan berlanjut hingga akhir tahun.

Perubahan nada tersebut menggeser ekspektasi pasar. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember turun menjadi sekitar 62%, dari sebelumnya 85% sebelum keputusan FOMC diumumkan.

Sementara dari pasar obligasi, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik 0,05% ke level 5,9339%. Kenaikan imbal hasil mengindikasikan adanya tekanan jual pada surat berharga negara (SBN), sedangkan penurunan imbal hasil umumnya mencerminkan minat beli yang meningkat.

Ke depan, pelaku pasar memperkirakan pergerakan pasar masih berpotensi volatil, seiring respons terhadap laporan kinerja emiten berkapitalisasi besar serta penantian sejumlah agenda dan rilis data ekonomi dari AS dan China, termasuk data PCE AS dan arah kebijakan The Fed.