Jakarta—Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan Selasa (10/6/2025). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam, rupiah terapresiasi tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara Surat Berharga Negara (SBN) terpantau dilepas investor.
IHSG naik 1,65% ke level 7.230. Pergerakan saham didominasi penguatan, dengan 352 saham naik, 261 saham turun, dan 195 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp17,88 triliun, melibatkan 29,15 miliar saham dalam 1,52 juta kali transaksi.
Investor asing membukukan net buy sebesar Rp1,03 triliun di seluruh pasar. Rinciannya, net buy Rp1,01 triliun terjadi di pasar reguler, serta Rp20,23 miliar di pasar negosiasi dan tunai.
Secara sektoral, sembilan dari 11 sektor berada di zona hijau. Sektor teknologi memimpin penguatan dengan kenaikan 3,54%, disusul sektor transportasi 3,53% dan sektor energi 2,18%. Adapun sektor healthcare dan properti melemah masing-masing 0,98% dan 0,11%.
Salah satu sentimen yang mewarnai pasar adalah kelanjutan pembicaraan dagang AS dan China. Pejabat kedua negara menggelar perundingan pada Senin di London, Inggris. Dari pihak AS, pertemuan diwakili antara lain oleh Menteri Keuangan Scott Bessent, Menteri Perdagangan Howard Lutnick, dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer.
Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Kevin Hassett menyatakan AS mencari kepastian agar China kembali mengekspor mineral kritis. Ia mengatakan harapannya adalah setelah ada kesepakatan, pembatasan ekspor dari pihak AS akan dilonggarkan dan rare earth dapat dilepas dalam volume besar, sebelum negosiasi berlanjut ke isu-isu yang lebih kecil.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 0,03% ke posisi Rp16.265 per dolar AS. Penguatan rupiah terjadi di tengah dolar yang menguat, seiring berlanjutnya pembicaraan dagang AS-China hingga hari kedua dan harapan investor atas hasil yang dinilai positif.
Namun, sentimen di pasar mata uang dinilai tetap rapuh. Analis IG dalam catatan menyebut kekhawatiran terkait kebijakan perdagangan AS yang tidak menentu serta risiko fiskal masih menjadi perhatian. Harapan gencatan senjata tarif antara dua ekonomi terbesar dunia turut menopang dolar, yang sebelumnya tertekan tahun ini di tengah kebijakan perdagangan Presiden Donald Trump yang disebut melemahkan kepercayaan investor terhadap aset-aset AS.
Pelaku pasar juga mencermati rilis data inflasi AS pekan ini, termasuk CPI dan PPI, yang diharapkan memberi gambaran mengenai dinamika inflasi serta dampak ekonomi dari sengketa dagang yang berkepanjangan.
Sementara itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik tipis ke 6,752%. Kenaikan yield mencerminkan penurunan harga obligasi, yang mengindikasikan investor mengurangi porsi kepemilikan pada aset SBN.
Untuk perdagangan hari ini, pelaku pasar menantikan arah dari proyeksi pertumbuhan Bank Dunia serta rilis data ekonomi dari dalam negeri maupun dari AS hingga China, yang berpotensi memengaruhi pergerakan aset keuangan.

