JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi memasuki fase konsolidasi dan bergerak terbatas pada perdagangan pekan ini, 11–15 Agustus 2025. Sejumlah analis menilai arah pasar akan banyak dipengaruhi sentimen global, terutama perkembangan negosiasi dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang memasuki tenggat waktu pada 12 Agustus 2025.
Analis Phintraco Sekuritas menyebut perhatian pasar pada pekan ini tertuju pada hasil perundingan dagang AS-China. Selain itu, pelaku pasar juga menanti pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus 2025, yang direncanakan membahas upaya perdamaian di Ukraina.
Dari dalam negeri, Phintraco Sekuritas menilai IHSG sudah berada dalam fase konsolidasi pada perdagangan pekan lalu, meski terdapat beberapa data ekonomi domestik yang membaik serta masuknya sejumlah saham dalam indeks MSCI pada review kuartalan Agustus 2025. Phintraco memperkirakan IHSG bergerak di kisaran 7.480–7.680, sementara potensi kenaikan lanjutan dinilai memerlukan konfirmasi dari lonjakan volume perdagangan.
Sementara itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menilai kenaikan harga komoditas inti—seperti minyak kelapa sawit, batu bara, nikel, emas, dan tembaga—berpeluang menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun, CGS juga mengingatkan potensi tekanan dari aksi jual asing yang kembali muncul.
CGS memproyeksikan IHSG bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah, dengan area support di 7.450/7.370 dan resist di 7.615/7.700.
Pada perdagangan sepekan terakhir, IHSG tercatat turun tipis 0,06% ke level 7.553,39. Pergerakan indeks tersebut ditopang oleh saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), yang masing-masing naik 21,02% dan 3,09%.

