BERITA TERKINI
IEA, IMF, dan Bank Dunia Nilai Dampak Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi dan Pupuk

IEA, IMF, dan Bank Dunia Nilai Dampak Perang Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Energi dan Pupuk

Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Dana Moneter Internasional (IMF), dan Bank Dunia menilai perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menimbulkan dampak besar terhadap energi dan perekonomian global. Salah satu efek yang disorot adalah kenaikan harga minyak, gas, hingga pupuk.

Dalam pernyataan yang dikutip dari imf.org, ketiga lembaga tersebut bertemu pada Senin, 13 April 2026, sebagai bagian dari kelompok koordinasi yang dibentuk pada awal April. Kelompok ini bertujuan memaksimalkan respons lembaga-lembaga tersebut terhadap dampak energi dan ekonomi dari perang di Timur Tengah.

IEA, IMF, dan Bank Dunia mencatat bahwa dampak konflik bersifat besar, global, dan sangat asimetris. Menurut mereka, dampak itu secara tidak proporsional lebih berat dirasakan negara-negara pengimpor energi, terutama negara berpenghasilan rendah.

“Guncangan itu telah menyebabkan kenaikan harga minyak, gas, dan pupuk, memicu kekhawatiran tentang ketahanan pangan dan kehilangan pekerjaan. Beberapa produsen minyak dan gas di Timur Tengah juga mengalami penurunan pendapatan ekspor yang dramatis,” demikian pernyataan yang dikutip.

Ketiga lembaga menekankan situasi masih sangat tidak pasti, sementara pengiriman melalui Selat Hormuz belum kembali normal. Mereka menyebut, bahkan jika arus pengiriman reguler kembali berjalan, pasokan global komoditas utama akan membutuhkan waktu untuk pulih ke tingkat sebelum konflik. Harga bahan bakar dan pupuk juga diperkirakan dapat bertahan tinggi untuk jangka waktu lama, seiring adanya kerusakan infrastruktur.

Akibat gangguan pasokan, kekurangan input utama dinilai berpotensi memengaruhi sektor energi, pangan, serta industri lainnya. Dampak lain yang disebutkan meliputi pengungsian, tekanan pada lapangan kerja, serta penurunan perjalanan dan pariwisata yang diperkirakan memerlukan waktu untuk pulih.

IEA, IMF, dan Bank Dunia menyatakan telah membagikan penilaian terbaru menjelang rilis Laporan Pasar Minyak bulanan IEA dan Prospek Ekonomi Dunia IMF pada Selasa, 14 April 2026. Mereka juga membahas kondisi negara-negara yang paling terdampak dan menyiapkan respons lembaga masing-masing. Dalam pernyataan bersama, mereka menegaskan kerja sama dilakukan hingga tingkat negara untuk memberikan saran kebijakan yang disesuaikan, serta dukungan keuangan dari IMF dan Bank Dunia apabila diperlukan.

Ketiga lembaga itu menyatakan akan terus memantau dampak perang terhadap pasar energi, ekonomi global, dan kondisi masing-masing negara, serta mengoordinasikan dukungan kepada negara-negara anggota dengan memanfaatkan keahlian organisasi internasional lain bila dibutuhkan.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak pada awal pekan setelah Angkatan Laut AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran. Langkah tersebut diambil setelah perundingan damai antara AS dan Iran pada akhir pekan dilaporkan gagal menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei naik lebih dari 2% dan ditutup pada USD 99,08 per barel. Adapun minyak Brent untuk pengiriman Juni melonjak lebih dari 4% menjadi USD 99,36 per barel.

Blokade resmi diberlakukan pada Senin pukul 10.00 waktu AS Timur. Komando Pusat AS menyatakan kebijakan itu tidak akan menghambat kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan non-Iran. Namun, mereka menegaskan blokade akan diberlakukan terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, termasuk seluruh pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman.

Dalam perkembangan lain, Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade setelah negosiasi antara AS dan Iran di Pakistan gagal. Ia juga mengancam akan menghancurkan kapal militer Iran yang mendekati area blokade, serta memerintahkan Angkatan Laut untuk menghentikan kapal yang diduga membayar biaya kepada Iran untuk melintasi Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menjadi rute penting distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Sebelum konflik meningkat, sekitar 20% pasokan minyak global melewati selat tersebut. Dalam laporan yang sama disebutkan bahwa gangguan di kawasan itu dinilai sebagai salah satu disrupsi pasokan minyak terbesar dalam sejarah.

Iran merespons dengan mengancam pelabuhan di kawasan Teluk Persia, yang disebut langsung berdampak pada penurunan tajam lalu lintas kapal tanker. Meski sempat ada kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu, situasi dinilai tetap belum pasti, dan Trump disebut mempertimbangkan serangan terbatas untuk memecah kebuntuan negosiasi.

Pemerintah Iran menegaskan keamanan pelayaran selama masa gencatan senjata tetap bergantung pada persetujuan mereka. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menyatakan “kunci Selat Hormuz” masih berada di tangan Republik Islam.

Data yang dikutip menunjukkan hanya tiga kapal tanker raksasa melintas pada Sabtu, jauh di bawah kondisi normal sebelum perang yang bisa mencapai lebih dari 100 kapal per hari. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance menyebut kegagalan negosiasi terjadi karena Iran dinilai tidak memberikan komitmen tegas untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.