BERITA TERKINI
Ibas Tekankan Penguatan Fiskal, Energi, dan Perlindungan Sosial Hadapi Gejolak Global

Ibas Tekankan Penguatan Fiskal, Energi, dan Perlindungan Sosial Hadapi Gejolak Global

Jakarta — Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) menegaskan pentingnya penguatan strategi fiskal, energi, dan perlindungan sosial untuk menghadapi dinamika global yang dinilai makin kompleks dan tidak menentu.

Pernyataan itu disampaikan dalam Diskusi Kebangsaan bertema “Indonesia di Tengah Gejolak Global: Strategi Fiskal, Energi, dan Perlindungan Rakyat”, yang menghadirkan pakar, akademisi, teknokrat, serta anggota DPR dari Komisi XI, Komisi XII, dan Badan Anggaran.

Ibas menilai dunia saat ini berada dalam tiga lapisan dinamika besar, yakni geopolitik, geoekonomi, dan geostrategi. Menurutnya, ketiganya saling terkait dan berdampak pada stabilitas ekonomi global, perdagangan energi dan pangan, serta kebijakan moneter dan fiskal nasional.

“Indonesia tidak berdiri sendiri. Kita terhubung dalam sistem global yang dinamis. Apa yang terjadi di dunia hari ini, langsung berdampak pada kehidupan rakyat kita, mulai dari harga energi, pangan, hingga daya beli masyarakat,” ujar Ibas dalam keterangannya, Rabu, 8 April 2026.

Ia menjelaskan ketegangan global telah memicu disrupsi rantai pasok, kenaikan harga energi dan pangan, serta perubahan pola perdagangan dunia. Dampak lanjutan, kata Ibas, terlihat pada tekanan nilai tukar, arus modal, meningkatnya beban subsidi energi, serta kebutuhan perlindungan sosial.

Dari sisi fiskal, Ibas menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “APBN harus tetap menjadi shock absorber, melindungi rakyat dari tekanan global, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional,” tegasnya.

Ibas juga menyoroti langkah pemerintah yang disebutnya tetap menjaga harga energi agar tidak membebani masyarakat, serta menghadirkan berbagai paket kebijakan ekonomi yang pro rakyat.

Mengutip pemikiran ekonom peraih Nobel, Joseph Stiglitz, Ibas mengingatkan ketimpangan yang tinggi dapat melemahkan ekonomi. Karena itu, ia menilai kebijakan publik perlu memastikan keadilan dan keberpihakan kepada masyarakat luas.

Ia menyampaikan Fraksi Partai Demokrat berkomitmen mengawal kebijakan melalui tiga pendekatan waktu. Untuk jangka pendek, ia menyebut intervensi harga dan pasar, penguatan cadangan pangan dan energi, perluasan bantuan sosial, serta stabilisasi nilai tukar.

Pada jangka menengah, Ibas menyoroti reformasi subsidi tepat sasaran berbasis data, diversifikasi sumber impor dan ekspor, serta penguatan industri dalam negeri. Sementara untuk jangka panjang, ia menyebut kemandirian energi melalui energi terbarukan, kedaulatan pangan nasional, transformasi ekonomi berbasis nilai tambah, dan peningkatan daya saing global.

Ibas mengingatkan Indonesia memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis 1998, krisis global 2008, hingga pandemi Covid-19. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi modal untuk menghadapi tantangan global saat ini.

“Negara yang kuat bukan yang bebas dari krisis, tetapi yang mampu merespons krisis dengan cepat, tepat, dan berpihak pada rakyat,” kata legislator dari Dapil Jawa Timur VII itu.

Di akhir pernyataannya, Ibas mengajak peserta diskusi memberikan pandangan strategis, masukan kritis, serta rekomendasi kebijakan yang konkret dan implementatif. Ia menekankan kunci menghadapi tantangan global adalah keberanian mengambil kebijakan, ketepatan strategi, dan penguatan sinergi nasional. “Dari global shock menuju national resilience, dari tantangan menuju kesempatan,” tuturnya.