Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Anggawira menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal I 2026 memberi sinyal positif. Namun, ia menekankan angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi yang dihadapi pelaku usaha di lapangan.
“Secara agregat ini masih sesuai target, tapi kalau dilihat dari perspektif pelaku usaha, gambarnya tidak sesederhana angka headline,” kata Anggawira, Selasa (5/5/2026).
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi saat ini masih ditopang sejumlah sektor yang relatif kuat. Salah satunya pertambangan dan hilirisasi mineral seperti nikel dan tembaga yang disebut tetap berjalan dengan dukungan harga komoditas yang stabil. Aktivitas tersebut turut memberi efek berantai terhadap kawasan industri dan ekspor.
Selain itu, sektor konstruksi dan infrastruktur dinilai masih bergerak seiring belanja pemerintah dan pelaksanaan proyek strategis nasional. Aktivitas transportasi dan logistik juga terdorong meningkatnya mobilitas barang dan orang. Sementara sektor energi, baik migas maupun kelistrikan, menguat sejalan dengan tingginya permintaan dari industri.
Di sisi lain, Anggawira menyoroti sektor-sektor yang masih menghadapi tekanan. Industri manufaktur padat karya seperti tekstil dan alas kaki, misalnya, disebut belum sepenuhnya pulih akibat lemahnya permintaan global dan tekanan impor. Kondisi tersebut diperparah kenaikan biaya produksi yang menggerus margin usaha.
“UMKM dan perdagangan tradisional juga belum merasakan lonjakan permintaan yang signifikan. Daya beli memang ada, tapi cenderung selektif, terutama di luar kota besar,” ujarnya.
Ia juga menilai sektor properti dan real estat masih tertahan oleh suku bunga yang relatif tinggi serta kehati-hatian konsumen kelas menengah. Adapun industri yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi tekanan tambahan akibat pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya produksi.
Anggawira mengatakan kondisi tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya inklusif, karena banyak pelaku usaha—terutama skala kecil dan menengah—belum merasakan dampak langsung dari kenaikan angka pertumbuhan. Dunia usaha juga menghadapi tekanan biaya, mulai dari kurs, biaya logistik, hingga harga energi, sehingga peningkatan volume usaha tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan.
Dalam situasi ini, pelaku usaha disebut cenderung menahan ekspansi. Ketidakpastian global, suku bunga yang tinggi, serta dinamika regulasi menjadi faktor yang membuat banyak perusahaan mengambil sikap menunggu dan melihat perkembangan.
“Jadi kalau ditanya apakah sektor usaha ikut tumbuh, jawabannya iya, tapi tidak merata. Kualitas pertumbuhannya juga masih perlu diperkuat,” kata Anggawira.
Ke depan, ia menekankan pentingnya mendorong pertumbuhan yang lebih terasa di sektor riil, antara lain melalui penguatan daya beli masyarakat, perbaikan iklim usaha, serta penurunan biaya produksi agar lebih kompetitif.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen (YoY) pada kuartal I 2026, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan pertumbuhan tersebut dihitung berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku sebesar Rp6.187,2 triliun dan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun.
“Sehingga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 bila dibandingkan triwulan I 2025 atau secara year on year (YoY) tumbuh 5,61 persen,” ujar Amalia, Selasa (5/5/2026).
Sebagai perbandingan, pada kuartal I 2025 ekonomi Indonesia tumbuh 4,87 persen (YoY). Meski demikian, BPS mencatat ekonomi Indonesia mengalami kontraksi 0,77 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/qtq).
Di tingkat global, International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia mencapai 3,1 persen pada April 2026. Ekonomi negara berkembang diproyeksikan tumbuh 3,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan inflasi di negara berkembang pada 2026 disebut masih relatif lebih tinggi dibandingkan inflasi global.
Amalia menambahkan, sejumlah negara mitra dagang Indonesia menunjukkan dinamika pertumbuhan yang beragam pada kuartal I 2026. “Tiongkok tumbuh menguat dibandingkan kuartal IV 2025, AS tumbuh menguat dibandingkan triwulan IV 2025, sementara Malaysia, Singapura, dan Vietnam tumbuh melambat dibandingkan triwulan IV 2025, tetapi menguat dibandingkan triwulan I 2025,” ujarnya.