Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Heri Pudyatmoko, mendorong pemerintah daerah segera mereorientasi kebijakan ekonomi untuk menghadapi ketidakpastian global yang kian tajam. Menurutnya, Jawa Tengah perlu bertransformasi dari sekadar bertahan menjadi lebih kompetitif melalui pengembangan industri hijau dan diversifikasi ekonomi.
“Hadapi tantangan ekonomi global, Jawa Tengah bukan hanya bertahan, tapi bisa menjadi pusat industri hijau yang kompetitif,” ujar Heri.
Ia menilai ketidakpastian global saat ini dipicu oleh ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan, serta fluktuasi harga energi. Dalam konteks tersebut, Bank Dunia disebut baru-baru ini memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 4,7 persen akibat tekanan eksternal.
Di tengah situasi itu, Jawa Tengah masih menunjukkan ketahanan. Sepanjang 2025, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,37 persen, lebih tinggi dibanding capaian nasional.
Dari sisi perdagangan luar negeri, nilai ekspor pada Februari 2026 tercatat mencapai US$1.177,33 juta, naik 15,86 persen dibanding Februari 2025. Namun, inflasi Februari 2026 tercatat 4,43 persen (year on year), meningkat cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya.
Heri menilai kondisi tersebut menuntut reorientasi kebijakan yang lebih agresif. Ia mendorong percepatan transformasi digital bagi pelaku UMKM, penguatan investasi padat karya, serta hilirisasi produk pertanian dan pengembangan industri ramah lingkungan.
“Kita harus dorong industri yang ramah lingkungan dan berbasis teknologi agar daya saing Jateng tetap terjaga di tengah gejolak global,” tegasnya.
Selain itu, Heri menekankan pentingnya sinergi antara DPRD, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan pelaku usaha untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus melindungi lapangan kerja masyarakat.
“Dengan langkah yang tepat, kita (Jawa Tengah) tidak hanya akan survive, melainkan mampu memanfaatkan peluang di era ketidakpastian ini,” pungkasnya.