BERITA TERKINI
Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Kekhawatiran Pasokan Berlebih dan Memanasnya Tensi Dagang AS-China

Harga Minyak Dunia Melemah di Tengah Kekhawatiran Pasokan Berlebih dan Memanasnya Tensi Dagang AS-China

Jakarta — Harga minyak dunia melemah pada awal pekan ini di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan global serta perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.

Pada perdagangan Senin (20/10), harga minyak mentah berjangka Brent turun 24 sen atau 0,4 persen menjadi US$61,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah 21 sen atau 0,4 persen ke posisi US$57,33 per barel.

Kedua acuan harga tersebut masing-masing telah turun lebih dari 2 persen sepanjang pekan lalu, menandai penurunan selama tiga minggu berturut-turut. Tekanan harga juga dipengaruhi proyeksi International Energy Agency (IEA) yang memperkirakan kelebihan pasokan minyak akan meningkat pada 2026.

Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, menilai kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan dari peningkatan produksi negara-negara penghasil minyak, ditambah potensi perlambatan ekonomi akibat memanasnya tensi dagang AS-China, menekan harga minyak.

Tazawa menambahkan ketidakpastian pasar turut meningkat menjelang pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, di tengah langkah Washington memperketat tekanan terhadap pembeli minyak asal Rusia.

Pekan lalu, Kepala World Trade Organization (WTO) mengimbau AS dan China menurunkan tensi dagang. Ia memperingatkan pemisahan ekonomi antara kedua negara dapat memangkas output ekonomi global hingga 7 persen dalam jangka panjang.

AS dan China, dua konsumen minyak terbesar dunia, kembali memanas setelah memberlakukan biaya tambahan di pelabuhan terhadap kapal pengangkut kargo antar kedua negara. Kebijakan saling balas tersebut dikhawatirkan mengganggu arus perdagangan global.

Di sisi lain, Trump dan Putin disebut sepakat menggelar pertemuan baru untuk membahas perang di Ukraina, meski AS dan Eropa terus menekan India dan China agar menghentikan impor minyak dari Rusia.

Dari sisi pasokan, perusahaan energi AS pada pekan lalu menambah jumlah rig minyak dan gas untuk pertama kalinya dalam tiga pekan terakhir, berdasarkan laporan mingguan Baker Hughes.