BERITA TERKINI
Harga Energi Eropa Melonjak, Rusia Buka Peluang Pasok Minyak dan Gas Jika Sanksi Dicabut

Harga Energi Eropa Melonjak, Rusia Buka Peluang Pasok Minyak dan Gas Jika Sanksi Dicabut

Lonjakan harga energi di Eropa di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah membuka peluang baru bagi Rusia untuk kembali menawarkan pasokan minyak dan gas ke kawasan tersebut. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan negaranya siap memasok energi secara berkelanjutan apabila negara-negara Eropa bersedia bekerja sama tanpa tekanan politik.

Pernyataan itu muncul saat harga energi global meningkat tajam setelah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memicu gangguan pasokan di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini menambah tekanan pada sektor energi di sejumlah negara Eropa.

Putin menegaskan Rusia tidak pernah menutup pintu kerja sama energi dengan Eropa. Namun ia menekankan, hubungan tersebut hanya dapat berjalan jika negara-negara Eropa menghapus tekanan politik serta sanksi ekonomi yang selama ini diterapkan terhadap Moskow.

Ia juga menyebut perusahaan energi Rusia didorong untuk memanfaatkan perubahan kondisi pasar global akibat konflik. Gangguan pengiriman energi dari Timur Tengah dinilai dapat membuka peluang bagi Rusia untuk kembali memperluas pasar.

Ketegangan di kawasan Teluk disebut meningkat setelah Iran secara efektif menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu titik transit energi terpenting di dunia karena sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair global melewatinya.

Situasi itu membuat pasokan energi global menjadi tidak stabil. Negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Eropa, menghadapi risiko lonjakan harga yang lebih tinggi.

Tekanan harga energi ini turut memicu perdebatan di dalam Uni Eropa. Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban mendesak Uni Eropa menangguhkan sanksi terhadap minyak dan gas Rusia dengan alasan untuk menstabilkan harga energi di kawasan.

Dalam empat tahun terakhir, Uni Eropa berupaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia setelah perang Rusia-Ukraina memicu rangkaian sanksi ekonomi dari negara-negara Barat. Sebelum konflik tersebut, sekitar 40% pasokan gas Eropa berasal dari Rusia, namun angka itu turun drastis menjadi sekitar 13% dari total impor energi Uni Eropa pada 2025.

Penurunan permintaan dari Eropa mendorong Rusia menjual minyak dan gas dengan harga diskon ke sejumlah negara lain, yang berdampak pada hilangnya sebagian besar pasar energi utamanya di Eropa.

Di tengah kembali bergejolaknya situasi energi global, Rusia melihat peluang untuk memulihkan posisinya di pasar Eropa. Namun arah kerja sama energi ke depan dinilai masih akan sangat ditentukan oleh dinamika politik serta kebijakan sanksi internasional.