Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA) memanfaatkan momentum halal bihalal untuk memperkuat kepercayaan pelaku usaha di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Kegiatan tersebut digelar di Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Acara itu dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ahmad Muzani, Sandiaga Uno, Erwin Aksa, Candra Tirta Wijaya, Ismed Saputra, Akbar Djohan, serta Anthony Budiawan.
Ketua Umum BPP HIPKA periode 2022–2027, Kamrussamad, menilai halal bihalal memiliki makna strategis dalam situasi global yang penuh tekanan. Menurutnya, forum ini menjadi ruang untuk membangun kembali kepercayaan yang dibutuhkan dunia usaha.
“Halal bihalal ini bukan sekadar tradisi, tetapi momentum untuk membangun kembali kepercayaan. Dunia usaha membutuhkan sinyal positif bahwa ekonomi kita tetap kuat dan punya arah yang jelas,” ujar Kamrussamad.
Ia menekankan, kepercayaan merupakan faktor kunci yang mendorong investasi dan aktivitas ekonomi. “Kalau trust itu terjaga, investasi akan bergerak. Kalau investasi bergerak, maka produksi meningkat dan lapangan kerja terbuka. Jadi ini efek berantai yang sangat penting,” katanya.
Kamrussamad menjelaskan, pertemuan tersebut sengaja mempertemukan berbagai elemen strategis, mulai dari regulator, pelaku usaha, hingga analis ekonomi. “Kita ingin semua duduk bersama. Ada pemerintah, ada pengusaha, ada pengamat. Dari situ kita bisa membangun perspektif yang utuh dan mencari solusi bersama,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Kamrussamad juga menyampaikan apresiasi terhadap respons pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global. Ia menilai koordinasi antarlembaga berjalan dan kebijakan yang ditempuh relatif terukur, sehingga membantu memberikan kepastian bagi pelaku usaha.
“Kami melihat pemerintah cukup sigap. Koordinasi antar lembaga berjalan, kebijakan juga relatif terukur. Ini penting untuk memberikan kepastian kepada pelaku usaha,” ujarnya. Ia menambahkan, konsistensi kebijakan menjadi pertimbangan penting bagi investor. “Investor itu tidak hanya melihat peluang, tapi juga kepastian. Selama kebijakan konsisten dan arah ekonomi jelas, saya kira minat investasi akan tetap terjaga,” katanya.
Sejumlah tokoh yang hadir turut menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Sinergi antara pemerintah dan dunia usaha harus terus diperkuat. Kita tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi tekanan global,” ujar salah satu peserta forum.
Di sisi lain, pemerintah disebut terus mengoptimalkan peran Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) untuk menjaga stabilitas sektor keuangan nasional, dengan melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, serta Lembaga Penjamin Simpanan. Menanggapi hal itu, Kamrussamad menilai koordinasi melalui KSSK sebagai langkah yang tepat untuk meyakinkan pasar bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
“Koordinasi melalui KSSK ini sangat penting. Pasar butuh diyakinkan bahwa stabilitas sistem keuangan kita terjaga dengan baik,” katanya.
Kamrussamad juga menilai langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah berdampak positif. Menurutnya, stabilisasi rupiah penting karena gejolak nilai tukar dapat memengaruhi biaya produksi dan harga barang. “Stabilisasi rupiah itu krusial. Karena begitu rupiah bergejolak, dampaknya langsung terasa ke biaya produksi dan harga barang,” ujarnya.
Selain itu, ia menyinggung kebijakan energi yang diambil pemerintah di tengah potensi kenaikan harga minyak dunia. Ia menekankan perlunya subsidi dan kompensasi energi yang tepat sasaran agar tidak membebani APBN, sekaligus tetap melindungi masyarakat dan dunia usaha. “Kebijakan subsidi dan kompensasi energi harus tepat sasaran. Ini penting agar tidak membebani APBN, tapi juga tetap melindungi masyarakat dan dunia usaha,” katanya.
Lebih lanjut, Kamrussamad menyoroti strategi jangka menengah, termasuk hilirisasi industri dan diversifikasi pasar ekspor. Ia menilai hilirisasi diperlukan agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah, sementara diversifikasi pasar ekspor penting untuk mengurangi ketergantungan pada negara tertentu.
“Hilirisasi itu kunci. Kita tidak boleh terus bergantung pada ekspor bahan mentah. Nilai tambah harus diciptakan di dalam negeri,” tegasnya. Ia juga menambahkan, “Pasar kita jangan hanya itu-itu saja. Kita harus berani masuk ke pasar baru agar tidak terlalu tergantung pada negara tertentu.”
Menutup pernyataannya, Kamrussamad menyatakan HIPKA akan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. “Kami di HIPKA siap menjadi bagian dari solusi. Kami ingin memastikan dunia usaha tetap optimistis dan terus bergerak, apapun tantangan global yang dihadapi,” katanya.
Dengan penguatan sinergi dan langkah-langkah stabilisasi yang terus dilakukan, pelaku usaha diharapkan tetap memiliki keyakinan untuk berinvestasi dan memperluas kegiatan usaha, sehingga dapat mendorong pembukaan lapangan kerja di dalam negeri.