Grab Holdings Ltd, perusahaan transportasi dan layanan antar online asal Singapura, dikabarkan berencana menghimpun pinjaman tenor satu tahun hingga US$2 miliar. Jika terealisasi, langkah ini berpotensi memperkuat posisi kas perusahaan hingga sekitar US$6 miliar.
Rencana pendanaan tersebut mencuat di tengah spekulasi pasar mengenai kemungkinan Grab mengakuisisi GoTo, induk usaha Gojek di Indonesia. Grab menyatakan tidak akan memberikan komentar atas rumor atau spekulasi terkait isu tersebut.
Dalam riset ekuitas Grab Holdings yang ditulis analis industri teknologi Bloomberg Intelligence, Nathan Naidu, potensi akuisisi dinilai berpeluang menarik perhatian regulator. Alasannya, entitas gabungan disebut dapat menguasai sekitar 60–70% pasar layanan on-demand di Asia Tenggara apabila kesepakatan terjadi.
Naidu juga menyoroti Indonesia sebagai pasar utama yang membuat dinamika persaingan menjadi krusial. Dalam konteks ini, GoTo disebut lebih unggul dibandingkan Grab, sehingga Indonesia dinilai menjadi medan persaingan yang dapat memotivasi terjadinya kesepakatan.
Di tingkat regional, Grab disebut menunjukkan dominasi pada layanan pemesanan kendaraan dan pengiriman makanan. Perusahaan ini diperkirakan menguasai lebih dari 50% total nilai barang dagangan kotor (gross merchandise value/GMV) Asia Tenggara pada 2023.
Namun, riset tersebut menilai profitabilitas Grab masih menghadapi tantangan dari lini layanan keuangan yang terus merugi, di tengah persaingan bank digital di Singapura dan Malaysia.
Naidu menuliskan bahwa Grab memperkirakan pertumbuhan penjualan akan melambat pada 2024, sebelum kembali meningkat pada 2025, sebagaimana dikutip pada Kamis (27/3/2025).

