Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar mendorong penguatan kolaborasi energi antarnegara di kawasan Indo-Pasifik sebagai bagian dari diplomasi energi yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam Forum Indo-Pasifik Jepang. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan energi global di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dukungan tersebut disampaikan Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar Abdul Rahman Farisi. Ia menilai kawasan Indo-Pasifik memiliki posisi krusial untuk kerja sama interregional karena relatif jauh dari dampak langsung konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, sehingga penguatan kolaborasi energi dipandang relevan untuk memitigasi risiko global.
Abdul Rahman Farisi mengatakan diplomasi energi ini merupakan langkah antisipatif untuk meminimalkan dampak potensi kelangkaan pasokan energi sekaligus menjaga stabilitas harga minyak dunia yang rentan bergejolak akibat dinamika geopolitik. Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan memberi manfaat jangka panjang bagi negara-negara di kawasan.
Di tengah ketegangan geopolitik global, ia menyoroti potensi gangguan pasokan minyak akibat situasi di Timur Tengah, termasuk blokade Selat Hormuz dan serangan terhadap kilang minyak di Iran, Israel, serta sejumlah negara di kawasan. Kondisi itu disebut berisiko memicu kelangkaan pasokan dan mendorong harga minyak dunia menembus di atas 100 dolar Amerika Serikat per barel.
Ia juga menilai banyak negara belum sepenuhnya siap menghadapi lonjakan harga minyak yang signifikan, sementara perekonomian global masih berupaya pulih dari pandemi. Karena itu, penguatan kerja sama energi di Indo-Pasifik dipandang sebagai langkah strategis untuk menekan dampak negatif sekaligus menciptakan kondisi pasar energi yang lebih stabil dan prediktif.
Abdul Rahman Farisi menyebut kawasan Indo-Pasifik memiliki potensi besar dalam kerja sama energi, mulai dari eksplorasi sumber daya, peningkatan kapasitas industri energi—khususnya minyak dan gas—hingga pengembangan energi baru dan terbarukan. Menurutnya, forum seperti Forum Indo-Pasifik Jepang dapat memperkuat rantai pasok energi, membuka peluang investasi, dan memfasilitasi transfer teknologi antarnegara.
Ia berharap kerja sama energi, terutama di sektor minyak dan gas, dapat menciptakan kondisi positive-sum game sehingga seluruh negara yang terlibat memperoleh manfaat tanpa ada pihak yang dirugikan. Menurutnya, langkah diplomasi energi tersebut tidak hanya ditujukan untuk merespons risiko konflik, tetapi juga untuk membangun ketahanan kawasan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Golkar menilai kolaborasi energi di Indo-Pasifik dapat menjadi instrumen untuk memastikan ketersediaan energi yang stabil dan terjangkau, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan mengurangi kerentanan terhadap guncangan eksternal.

