BERITA TERKINI
Gencatan Senjata AS-Iran Dinilai Rapuh, Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Rawan Ekonomi Global

Gencatan Senjata AS-Iran Dinilai Rapuh, Selat Hormuz Tetap Jadi Titik Rawan Ekonomi Global

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut gencatan senjata selama dua pekan antara AS dan Iran sebagai “kemenangan total dan lengkap”. Namun, gencatan senjata yang digambarkan rapuh itu kembali menyoroti besarnya pengaruh Iran terhadap perekonomian global melalui kendalinya atas Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis di Teluk Persia yang dilalui sekitar 20 persen kapal tanker pengangkut minyak dunia. Dalam pemberitaan ini, penutupan Selat Hormuz oleh Iran disebut menghambat pasokan minyak ke berbagai negara dan memicu gangguan pada suplai minyak global.

Dampaknya, sejumlah negara terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), membatasi penggunaan energi, serta menghadapi tekanan inflasi atau kenaikan harga barang dan kebutuhan pokok akibat pasokan minyak yang terhalang.

“Iran tidak membutuhkan kekuatan militer yang besar untuk menyebabkan gangguan besar dalam perekonomian global,” kata Pakar Energi Brookings, Samantha Gross, dikutip dari CNN.

Pengumuman gencatan senjata disambut positif oleh investor serta pelaku pasar saham dan ritel. Harga minyak mentah dilaporkan langsung turun 15–20 persen setelah gencatan senjata diumumkan, sementara sejumlah pasar saham di berbagai belahan dunia menguat.

Meski demikian, para analis menilai kekhawatiran terkait pasokan minyak global belum sepenuhnya hilang. Neil Shearing, kepala ekonom di Capital Economics, memperingatkan bahwa masih ada hambatan besar sebelum gencatan senjata antara AS, Israel, dan Iran bisa menjadi akhir perang yang bertahan lama.

“Bagi pasar, isu yang paling penting tetaplah status Selat Hormuz,” ujarnya.

Hingga kini, masih belum jelas apakah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akan kembali normal sepenuhnya. Dalam laporan tersebut, Iran disebut menghentikan lalu lintas setelah Israel menyerang Lebanon.