Nama Iran kembali melesat di percakapan publik Indonesia. Bukan karena pariwisata atau olahraga, melainkan karena protes massal yang pecah lagi di kampus-kampus.
Isu ini menjadi tren karena menghadirkan drama yang terasa dekat. Ada mahasiswa, ada bentrokan, ada slogan anti-pemerintah, dan ada bayang-bayang kekuatan militer Amerika Serikat.
Dalam rekaman video yang diverifikasi BBC News, massa terlihat berjalan di lingkungan Universitas Teknologi Sharif, Teheran, pada Sabtu 21 Februari 2026.
Di sana, protes berubah menjadi ketegangan fisik. Bentrokan dilaporkan terjadi dengan kelompok pendukung pemerintah yang hadir di lokasi yang sama.
Di tengah kerumunan, terdengar teriakan keras: “Matilah sang diktator.” Kalimat itu menjadi simbol kemarahan yang tak lagi disembunyikan.
Berita ini mencatat sebuah penanda penting. Ini disebut sebagai protes skala besar pertama sejak tindakan keras mematikan oleh otoritas keamanan pada Januari.
Gelombang serupa dilaporkan muncul dari universitas lain di Teheran dan wilayah berbeda. Mahasiswa berkumpul untuk memberi penghormatan kepada ribuan orang yang tewas bulan lalu.
Di sisi lain, massa pendukung pemerintah membawa bendera nasional Iran. Kehadiran dua kubu dalam satu ruang memperbesar peluang gesekan.
Foto terverifikasi menunjukkan aksi duduk damai di Universitas Shahid Beheshti Teheran. Rekaman lain dari Universitas Teknologi Amir Kabir memperlihatkan protes menentang kebijakan pemerintah.
Gerakan juga meluas ke Mashhad, kota terbesar kedua di Iran. Di sana, mahasiswa meneriakkan tuntutan kebebasan dan hak-hak mereka.
“Kebebasan, kebebasan. Mahasiswa, berteriaklah, berteriaklah demi hak-hak kalian,” seru massa di Mashhad, seperti dikutip dalam laporan.
Belum dapat dipastikan apakah ada demonstran ditangkap. Namun laporan menyebut protes berlanjut hingga Minggu, menandakan api belum padam.
Protes Januari disebut bermula dari keluhan ekonomi. Lalu ia melebar menjadi kerusuhan terbesar sejak Revolusi Islam 1979, sebuah perbandingan yang sarat beban sejarah.
Lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) berbasis di AS mengonfirmasi setidaknya 7.015 orang tewas. Rinciannya termasuk 6.508 pengunjuk rasa dan 226 anak-anak.
Otoritas Iran menyatakan sebagian besar korban adalah personel keamanan atau warga sipil yang diserang perusuh. Dua versi ini menegaskan satu hal: kebenaran menjadi medan pertempuran.
Di atas semua itu, ada konteks geopolitik yang menekan. Situasi memanas seiring langkah AS meningkatkan kehadiran militer di dekat wilayah Iran.
Presiden AS Donald Trump menyatakan mempertimbangkan serangan militer terbatas. Pada saat yang sama, AS dan sekutu Eropanya mencurigai Iran bergerak menuju pengembangan senjata nuklir.
Iran membantah tuduhan tersebut. Pemerintah menyatakan program nuklirnya bukan untuk persenjataan, sebuah klaim yang terus diperdebatkan di meja diplomasi global.
Pejabat AS dan Iran sempat bertemu di Swiss pada Selasa untuk membahas pembatasan program nuklir. Namun Trump mengatakan dunia akan mengetahui sekitar 10 hari apakah kesepakatan tercapai.
Trump juga memiliki rekam jejak mendukung pengunjuk rasa Iran. Ia pernah menyatakan, “Bantuan sedang dalam perjalanan,” sebuah kalimat yang bisa dibaca sebagai harapan atau provokasi.
-000-
Mengapa Isu Ini Menjadi Tren di Indonesia
Pertama, karena kampus adalah panggung yang mudah dipahami publik Indonesia. Ketika mahasiswa turun, orang mengingat bahwa perubahan sering dimulai dari ruang kuliah.
Di banyak negara, mahasiswa dipandang sebagai sensor sosial. Mereka cepat merasakan ketidakadilan, dan berani mengucapkannya saat yang lain memilih diam.
Kedua, karena ada unsur bentrokan dua kubu di ruang yang sama. Konflik yang terlihat, terekam, dan terverifikasi membuat orang merasa menyaksikan sejarah secara langsung.
Video yang diverifikasi BBC News memberi bobot pada percakapan daring. Dalam ekosistem informasi yang penuh manipulasi, label verifikasi menjadi mata uang kepercayaan.
Ketiga, karena isu Iran tidak berdiri sendiri. Ia bertaut dengan ketegangan AS, isu nuklir, dan ancaman serangan militer, yang selalu memicu kecemasan tentang perang regional.
Indonesia, sebagai negara yang bergantung pada stabilitas ekonomi global, peka pada setiap potensi eskalasi di Timur Tengah. Publik menghubungkan konflik dengan harga energi dan ketidakpastian.
-000-
Kampus, Duka, dan Bahasa Perlawanan
Protes yang muncul di Universitas Teknologi Sharif, Shahid Beheshti, dan Amir Kabir menunjukkan satu pola. Kampus bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang aman yang ingin dipertahankan.
Namun “aman” di sini rapuh. Ketika massa pendukung pemerintah hadir dengan bendera nasional, ruang kampus berubah menjadi panggung legitimasi yang diperebutkan.
Mahasiswa yang berkumpul untuk penghormatan kepada korban tewas menambah dimensi emosional. Duka kolektif sering menjadi bahan bakar paling kuat bagi keberlanjutan gerakan.
Teriakan “Matilah sang diktator” menandai putusnya jarak antara keluhan dan tuntutan. Ia bukan lagi soal ekonomi semata, melainkan soal siapa yang berhak memerintah.
Di Mashhad, seruan “kebebasan” mengingatkan bahwa kata ini sederhana tetapi mahal. Kebebasan selalu terdengar universal, tetapi maknanya selalu politis.
-000-
Analisis: Dari Keluhan Ekonomi ke Krisis Legitimasi
Laporan menyebut protes Januari dipicu keluhan ekonomi. Dalam banyak kasus, ekonomi adalah pintu masuk yang paling mudah bagi kemarahan publik.
Ketika harga, pekerjaan, dan masa depan terasa buntu, masyarakat mencari penjelasan. Lalu penjelasan itu sering berhenti pada satu kata: pemerintah.
Namun protes yang bertahan jarang tetap ekonomis. Ia berkembang menjadi pertanyaan moral: apakah negara melindungi warganya, atau justru menakut-nakuti mereka.
Di titik ini, legitimasi menjadi taruhan. Negara modern tidak hanya berdiri di atas kekuatan, tetapi juga di atas penerimaan yang terus diperbarui.
Di Iran, pertarungan narasi terlihat jelas dalam data korban. Hrana menyebut 7.015 orang tewas, sementara otoritas Iran menekankan korban dari keamanan dan warga sipil.
Ketika angka-angka berbeda tajam, publik global melihat dua realitas yang saling meniadakan. Dan di antara keduanya, keluarga korban tetap hidup dengan kehilangan.
-000-
Riset yang Relevan: Mengapa Protes Mudah Menyebar
Ilmu sosial memberi kacamata untuk memahami penyebaran protes. Salah satu konsep penting adalah “mobilisasi sumber daya,” yakni kemampuan gerakan mengorganisasi orang dan dukungan.
Kampus menyediakan struktur itu. Ada jaringan pertemanan, ruang berkumpul, dan identitas bersama sebagai mahasiswa, yang memudahkan koordinasi aksi.
Konsep lain adalah “kesempatan politik.” Ketika negara terlihat terpecah, atau ketika sorotan internasional meningkat, sebagian warga merasa ada celah untuk bersuara.
Dalam berita ini, sorotan internasional hadir lewat verifikasi video dan ketegangan diplomasi nuklir. Situasi seperti itu dapat memperbesar perhatian, sekaligus memperbesar risiko.
Ada pula gagasan “repertoar aksi,” yaitu pilihan bentuk protes yang tersedia. Aksi berjalan, duduk damai, hingga penghormatan korban adalah repertoar yang mudah dikenali publik.
Riset komunikasi politik juga menekankan peran dokumentasi visual. Video yang beredar dapat mempercepat empati, tetapi juga mempercepat polarisasi.
-000-
Bayangan Kasus Serupa di Luar Negeri
Protes yang berpusat di kampus mengingatkan pada beberapa peristiwa di luar negeri. Di berbagai negara, universitas kerap menjadi titik awal gerakan sipil.
Gelombang demonstrasi di Hong Kong pada 2019, misalnya, menunjukkan bagaimana ruang pendidikan dapat berubah menjadi pusat koordinasi dan simbol perlawanan.
Di Myanmar setelah kudeta 2021, mahasiswa dan komunitas kampus juga menjadi bagian penting dari penolakan terhadap kekuasaan militer. Negara merespons dengan penangkapan dan kekerasan.
Di Belarus pada 2020, protes luas memunculkan bentrokan narasi antara demonstran dan negara. Perdebatan tentang siapa korban dan siapa pelaku menjadi pola yang berulang.
Rujukan ini tidak menyamakan konteks secara mentah. Namun ia membantu melihat bahwa benturan negara dan warga sering mengikuti pola serupa, terutama saat legitimasi dipertanyakan.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar bagi Indonesia
Isu Iran menyentuh Indonesia pada beberapa lapisan. Pertama, soal kebebasan sipil dan ruang aman kampus, tema yang selalu relevan di demokrasi mana pun.
Indonesia memiliki sejarah panjang gerakan mahasiswa. Karena itu, publik mudah terhubung secara emosional saat melihat mahasiswa di negara lain menghadapi risiko besar.
Kedua, isu ini terkait literasi informasi. Verifikasi video menjadi penting karena konflik modern tidak hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di ruang digital.
Ketiga, ada dampak geopolitik. Ketegangan AS dan Iran, termasuk wacana serangan militer terbatas, dapat memengaruhi stabilitas kawasan dan ekonomi global.
Indonesia berkepentingan pada de-eskalasi. Sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif, Indonesia kerap menempatkan diplomasi dan stabilitas sebagai prioritas.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik perlu menahan diri dari kesimpulan instan. Dalam konflik yang panas, informasi sering parsial, dan narasi sering dipakai untuk mengunci emosi.
Kedua, utamakan sumber yang jelas dan terverifikasi, terutama untuk video dan angka korban. Perbedaan klaim, seperti antara Hrana dan otoritas Iran, perlu dibaca sebagai konteks.
Ketiga, pisahkan simpati kemanusiaan dari glorifikasi kekerasan. Bentrokan dua kubu adalah sinyal bahaya, bukan tontonan yang layak dirayakan.
Keempat, dorong percakapan yang lebih luas tentang perlindungan warga sipil. Ketika korban sudah ribuan, fokus kemanusiaan seharusnya melampaui kompetisi propaganda.
Kelima, bagi pembuat kebijakan, isu ini mengingatkan pentingnya diplomasi dan kesiapsiagaan ekonomi. Ketegangan di Timur Tengah dapat merembet ke ketidakpastian global.
-000-
Penutup: Antara Ketakutan dan Keberanian
Protes di Iran memperlihatkan betapa cepat ruang pendidikan berubah menjadi ruang pertarungan. Di sana, pengetahuan bertemu ketakutan, dan idealisme bertemu kekuasaan.
Di balik slogan dan bendera, ada manusia yang ingin hidup tanpa ancaman. Ada keluarga yang menunggu kabar, dan ada masa depan yang dipertaruhkan di jalan kampus.
Ketika dunia menatap, yang paling mudah adalah memilih kubu. Yang lebih sulit adalah menjaga nurani tetap jernih, sambil mengakui bahwa penderitaan tidak pernah abstrak.
Pada akhirnya, sejarah sering ditulis oleh mereka yang bertahan. “Keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan keputusan bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada takut.”

