SERPONG — Turbulensi politik global akibat perang Iran melawan AS-Israel disebut langsung menekan perekonomian dunia. Pelemahan ekonomi dinilai tidak hanya terjadi di negara miskin, tetapi juga merambah negara maju.
Sejumlah negara di Eropa, Asia, Amerika, dan Afrika disebut terancam resesi seiring melonjaknya harga energi dan pangan. Negara-negara yang tidak memiliki sumber energi minyak dan gas dinilai paling terpukul karena pasokan semakin sulit didapat dan harga migas meroket sejak awal perang, ditambah penutupan Selat Hormuz.
Dampak lain yang dikhawatirkan adalah tersendatnya pasokan bahan baku pupuk dan plastik akibat terhambatnya arus logistik dari Timur Tengah ke Asia Pasifik dan Australia. Jika kondisi geopolitik dan ekonomi global yang tidak menentu ini berlarut, sejumlah negara diperkirakan bisa kolaps, terutama negara yang sepenuhnya bergantung pada migas dari Timur Tengah.
Dalam satu hingga dua bulan ke depan, ekonomi dunia disebut berpotensi makin terpuruk apabila pasokan bahan baku industri plastik dan petrokimia menipis. Produksi pangan dunia juga dikhawatirkan menurun signifikan akibat terhambatnya pasokan pupuk.
Di tengah situasi tersebut, terdapat harapan agar tekanan ekonomi global yang akhirnya turut memengaruhi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tidak membuat kondisi ekonomi masyarakat lapisan bawah merosot. Pemerintah diharapkan terus menyalurkan bantuan sosial berupa beras dan bantuan tunai bagi warga miskin. Bahkan, diusulkan agar dalam tiga bulan ke depan cakupan penyaluran bansos diperluas hingga dua kali lipat.
Selain itu, bantuan permodalan untuk usaha kecil juga diharapkan dapat diberikan hingga akhir 2027. Langkah ini dinilai penting agar usaha kecil yang baru pulih tidak kembali gulung tikar.
Seruan juga ditujukan kepada para pemimpin lembaga negara, termasuk pimpinan DPR dan DPRD, agar berpihak kepada rakyat kecil dan fokus pada upaya penyelamatan warga miskin agar tidak semakin terpuruk. Dalam konteks ini, para pejabat publik diminta tidak “pelit” terhadap warga miskin.
Di sisi lain, masyarakat lapisan bawah disebut saatnya menagih janji para politisi ketika kampanye Pemilu dan Pilkada, seperti penciptaan lapangan kerja baru, sekolah gratis, serta beasiswa bagi anak-anak berprestasi dari keluarga tidak mampu. Janji lain yang diingatkan adalah komitmen membantu pedagang kaki lima, pedagang asongan, dan warung makan rakyat. Ketika ekonomi global memburuk dan menekan banyak negara, para politisi yang telah menjadi pejabat diminta memenuhi janji tersebut dan menolong rakyat kecil.