BERITA TERKINI
Gejolak Ekonomi di Tengah Konflik Timur Tengah dan Kekhawatiran Harga Minyak

Gejolak Ekonomi di Tengah Konflik Timur Tengah dan Kekhawatiran Harga Minyak

Ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap ekonomi global, terutama terkait potensi gangguan pasokan energi. Situasi ini mengingatkan pada krisis setahun lalu, ketika pada Juni 2025 Israel secara tiba-tiba membom sejumlah fasilitas nuklir di Iran, yang kemudian diikuti keterlibatan Amerika Serikat (AS) dengan menyerang tiga fasilitas nuklir lainnya.

Konflik saat itu sempat memunculkan aksi balasan dari Iran, namun berlangsung singkat dan dikenal sebagai Perang 12 Hari. Respons internasional terbelah. Sejumlah negara, terutama dari Dunia Arab, mengecam serangan AS dan Israel sebagai pelanggaran hukum internasional. Di sisi lain, negara seperti Jerman dan Ukraina menilai serangan tersebut sebagai langkah preventif terhadap ancaman teknologi nuklir Iran.

Perkembangan terbaru di kawasan dinilai memiliki pola yang serupa: AS dan Israel kembali melancarkan serangan militer ke Iran, yang memicu respons balasan. Bedanya, konflik kali ini disebut berpotensi berskala lebih luas karena melibatkan lebih banyak negara dan diperkirakan berlangsung lebih lama.

Presiden AS Donald Trump memperkirakan Perang Iran akan berlangsung selama beberapa pekan. Meski demikian, pemerintah AS menegaskan konflik tersebut tidak akan berubah menjadi perang berkepanjangan seperti invasi AS ke Afghanistan dan Irak pada awal abad ke-21.

Di tengah ketidakpastian itu, perhatian pasar global tertuju pada risiko lonjakan harga minyak, terutama jika Selat Hormuz ditutup. Selat Hormuz merupakan jalur strategis di Teluk Persia yang bagian utaranya berbatasan langsung dengan Iran. Sekitar seperlima arus perdagangan minyak dan gas bumi dunia melewati selat ini setiap tahun, sehingga penutupan jalur tersebut dinilai dapat memicu kekhawatiran krisis harga minyak.

Sejak serangan AS dan Israel memulai Perang Iran pada 28 Februari lalu, harga minyak mentah global tercatat melonjak sekitar 20% hanya dalam sepekan. Harga minyak mentah WTI dan Brent kini menembus 80 dolar AS per barel.

Meski demikian, jika melihat tren yang lebih panjang, level harga saat ini dinilai belum tergolong setinggi beberapa periode sebelumnya. Sejak 2023, harga minyak mentah beberapa kali sempat menembus 80 dolar AS per barel. Pada akhir 2023, harga bahkan hampir menyentuh 90 dolar AS per barel akibat pemangkasan produksi oleh negara-negara eksportir minyak (OPEC). Kenaikan serupa kembali terjadi pada April 2024 dengan pemicu yang sama.

Pertengahan tahun lalu, ketika Perang 12 Hari terjadi, harga minyak mentah dunia juga sempat melonjak hingga sekitar 90 dolar AS per barel. Kekhawatiran meluasnya konflik serta potensi terganggunya arus perdagangan minyak dan gas di Selat Hormuz menjadi pendorong utama, serupa dengan situasi saat ini.

Dalam beberapa episode kenaikan harga minyak tersebut, kekhawatiran terhadap dampaknya pada harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tidak sepenuhnya terbukti. Harga BBM bersubsidi Pertalite dan Solar tidak berubah sejak terakhir naik pada September 2022. Sementara itu, BBM non-subsidi sempat mengalami kenaikan belasan persen, tetapi kemudian turun dan berfluktuasi relatif stabil.

Harga minyak mentah saat ini juga masih jauh di bawah lonjakan pada 2022, ketika Rusia memulai invasi skala penuh ke Ukraina. Saat itu, harga minyak sempat meroket hingga kisaran 130–140 dolar AS per barel. Sanksi terhadap sektor energi Rusia disebut membuat pasokan minyak Rusia berkurang di pasar global, padahal negara tersebut merupakan produsen minyak terbesar ketiga di dunia.

Selain faktor pasokan, kekhawatiran saat konflik Rusia–Ukraina juga dipengaruhi risiko eskalasi yang lebih besar, mengingat keterlibatan kekuatan militer besar seperti Rusia serta potensi terseretnya NATO dan AS di sisi Ukraina. Sementara itu, konflik di Timur Tengah saat ini tetap menjadi perhatian karena dampaknya terhadap stabilitas kawasan dan jalur perdagangan energi global.