WASHINGTON — Gedung Putih mengonfirmasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pekan depan, di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara kedua negara. Kepastian itu disampaikan pada Kamis (23/10/2025) waktu setempat, setelah sebelumnya rencana pertemuan sempat diragukan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Trump akan memulai rangkaian kunjungan Asia dengan bertolak ke Malaysia pada Jumat malam. Perjalanan itu juga mencakup kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan.
Menurut Leavitt, pertemuan Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung di Korea Selatan pada Kamis depan, setelah Trump menyampaikan pidato dalam KTT CEO Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC). “Pada Kamis pagi waktu setempat, Presiden Trump akan menghadiri pertemuan bilateral dengan Presiden Xi dari Republik Rakyat China sebelum berangkat kembali ke tanah air,” kata Leavitt.
Dalam agenda tur Asia tersebut, Trump juga dijadwalkan bertemu sejumlah pemimpin kawasan. Ia akan bertemu Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim pada Minggu, Perdana Menteri baru Jepang Sanae Takaichi di Tokyo pada Selasa, serta Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung di Busan pada Rabu.
Pertemuan Trump dan Xi berlangsung ketika perang dagang AS–China kembali memanas. Ketegangan meningkat pada awal Oktober setelah Beijing memperluas pembatasan ekspor mineral tanah jarang. Menanggapi langkah itu, Trump sempat mengancam akan membalas dengan tarif dan langkah lain, meski dalam beberapa hari terakhir ia menyatakan optimistis peluang tercapainya kesepakatan dagang.
“Saya pikir hasilnya akan sangat baik, dan semua orang akan senang,” kata Trump pada Kamis malam, merujuk pada pertemuannya dengan Xi.
Namun, pernyataan optimistis Trump muncul di tengah nada yang lebih keras dari pejabat perdagangan dan menteri keuangannya, yang telah berangkat ke Asia pada Rabu untuk memastikan pertemuan tersebut—yang disebut sebagai pertemuan pertama pada masa jabatan kedua Trump—tetap berjalan sesuai rencana.
Trump juga menegaskan isu fentanyl akan menjadi topik utama yang ia angkat dalam pertemuan dengan Xi. Washington menuduh Beijing gagal membatasi aliran bahan kimia prekursor fentanyl, yang disebut menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat overdosis di AS. Sementara itu, Beijing mempertahankan catatan pengendalian narkotikanya dan menuduh Washington menggunakan isu fentanyl untuk “memeras” China.
Gedung Putih sebelumnya menjadikan arus bahan kimia dari China sebagai salah satu alasan untuk menaikkan tarif terhadap barang-barang China. “Pertanyaan pertama yang akan saya ajukan kepadanya adalah tentang fentanyl. Saya akan menempatkannya di urutan paling atas dalam daftar,” kata Trump.

