Forum pemberdayaan perempuan Dhanavinya menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dan transformasi mental bagi pengusaha perempuan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Pesan itu disampaikan dalam diskusi panel bertajuk “Prosperitea Vol. 4: Global Crisis and Its Opportunity” yang digelar di Depok.
Pendiri Dhanavinya, Esra Manurung, menyatakan kolaborasi antarpengusaha perempuan menjadi kunci untuk menciptakan dampak yang signifikan di tengah tekanan global. Ia mengatakan Dhanavinya, yang didirikan bersama Lanny Sutiarto dan Ailing Yang, berfokus pada pengembangan kapasitas diri melalui bimbingan (mentoring), pelatihan (coaching), serta konsultasi bisnis secara berkala.
Esra menilai transformasi kerap tidak nyaman, namun dapat membentuk pemimpin yang tangguh, visioner, dan mampu menyesuaikan diri. Ia juga menekankan pentingnya ketahanan mental saat krisis.
Sejalan dengan itu, Ailing Yang—penulis buku sekaligus pengusaha dengan jaringan bisnis lintas benua—menilai krisis global perlu dipahami alih-alih ditakuti. Menurutnya, dalam setiap ketidakpastian selalu ada ruang untuk bertumbuh bagi mereka yang mampu melihat peluang dari sudut pandang berbeda.
Ailing menambahkan, kekuatan untuk menghadapi tekanan ekonomi bersumber dari kejelasan visi dan keberanian untuk melangkah. Ia memandang krisis kerap menjadi titik awal perubahan besar ketika seseorang memiliki kesiapan mental.
Dari perspektif manajemen aset, pebisnis sekaligus mentor bidang keuangan Lanny Sutiarto menegaskan bahwa situasi global saat ini memperkuat urgensi kemandirian finansial, khususnya bagi perempuan. Ia menyebut kemandirian finansial tidak hanya soal kemampuan menghasilkan pendapatan, tetapi juga kebijaksanaan dalam menata dan mengelola keuangan di tengah situasi yang tidak menentu.
Sementara itu, eksekutif senior di sektor energi, Erita Yohan, memproyeksikan adanya pergeseran besar pada sektor pangan sehat, kesehatan, energi, serta ekonomi digital sebagai ruang pertumbuhan baru. Ia menilai perempuan memiliki keunggulan seperti kemampuan mengerjakan beberapa tugas sekaligus, ketelitian, dan intuisi kuat sebagai modal menghadapi ketidakpastian.
Erita juga mengajak perempuan untuk tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai usaha. Menurutnya, peluang dengan modal terbatas—seperti kuliner rumah tangga, edukasi daring, hingga menjadi pengecer—terbuka untuk dijalankan secara disiplin.
Dhanavinya yang didirikan pada April 2025 menyatakan komitmennya untuk terus mendorong perspektif bahwa perempuan memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Di tengah perlambatan ekonomi dan tekanan inflasi, perempuan diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memimpin dalam menciptakan peluang ekonomi baru.